bismillah
Anda pernah mendengar kisah sapi betina? Saya yakin tak hanya pernah, tapi hafal. Kisah sapi yang menjadi latar belakang penamaan surat kedua setelah al-Fatihah itu adalah kisah yang amat termasyhur. Kisah sapi langka yang harus dicari Bani Israil akibat mereka terlalu banyak bertanya atas perintah Allah yang sudah teramat jelas: “sembelihlah seekor sapi betina!!”. Keengganan melaksanakan perintah itu mendorong mereka terus bertanya, sehingga semakin spesifik ciri2 sang sapi, semakin sulitlah dia dicari.

Siapakah pemilik sapi betina itu? Itulah yang ingin saya ceritakan di sini.
Alkisah, sapi itu milik seorang lelaki yang memiliki seorang istri dan anak yang masih bayi. Sang lelaki adalah seorang shalih yang hanya ingin memberi nafkah keluarganya dengan barang yang sudah jelas halal. Segenap tenaga ia kerahkan untuk menghindari barang haram yang mungkin dimakan istri dan anaknya.
Suatu hari sang lelaki sakit keras. Ia merasa Allah akan segera memanggilnya kembali ke hadiratNya. Tak ada peninggalan yang bisa ia berikan kepada istri dan anaknya, kecuali seekor anak sapi betina yg masih sangat muda.
Maka ia berikhtiar mencari orang yang amanah yang bisa ia titipi sang anak sapi, namun tak ia dapati. Sungguh di zaman itu mencari orang yang bisa membedakan halal haram teramat sulit. Yang ia inginkan, peninggalannya terpelihara tanpa tercampuri barang haram, walaupun ia hanya seekor sapi. Akhirnya ia hadapkan wajahnya ke langit seraya berdoa,
“ya Allah, kutitipkan sapi ini kepadaMu sampai anakku besar nanti. Kembalikanlah sapi ini kepadanya saat tiba waktunya nanti”
Saat ia kembali ke rumahnya ia ceritakan hal itu kepada sang istri. ia bertanya, “di mana kau tinggalkan sapi itu?”
“di tengah padang rumput” jawabnya.
Tak lama kemudian ruh sang lelaki meninggalkan jasadnya.
Singkat cerita, saat sang anak dewasa ibunya menceritakan perihal sapi warisan ayahnya. Segera ia ke padang rumput. Tak lupa ia berdoa,
“ya Allah, Rabb Ibrahim dan Ya’qub, aku bertawakkal kepadaMu, kembalikanlah kepadaku titipan ayahku.”
Ajaib, sapi itu ada di sana!!
Inilah dia, sapi yang dicari kaum Nabi Musa. Yang umurnya tak terlalu tua, tak terlalu muda. Yang berwarna kuning mencolok mata. Yang tak pernah dipakai kerja di ladang dan pesawahan.
Inilah dia, sapi yang Allah pelihara secara langsung. Yang dibeli kaum nabi Musa dengan emas seberat kulitnya. Yang setelah disembelih, bagian tubuhnya membangkitkan orang yang sudah tak bernyawa: dengan perintah Allah tentunya.
Hikmah cerita ini, kata Imam Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya, keshalihan orang tua akan menjadi pemelihara dan pengundang berkah bagi turunannya.
Lalu apa hubungannya dengan istri saya?
Saat hendak meninggalkan istri yang baru 10 hari saya nikahi, saya teringat kisah ini. Maka segera saya bersujud seraya berdoa,
“Ya Allah Yang Maha Memelihara, kepadaMu, saya menitip istri saya..!!”
(NB: ka bapa ibu (mertua) n mamah bapa, hapunten ngarepotkeun wae..!!)







