Mencoba Kembali

Bismillaahirrahmaanirrahiem

Hanyalah amal-amal itu bergantung kepada niatnya.(Hadits)

Niat adalah maksud, begitu kata Imam Nawawi. Sesuatu yang selalu mendahului segala perbuatan.

Niat memiliki kedudukan yang sangat penting, ia membedakan antara amalan ibadah dan bukan ibadah, juga antara satu jenis ibadah dengan jenis ibadah yang lain. Oleh karenanya, niat akan membedakan pahala dan keafdolan amal.

Di antara sunah para ulama adalah menuliskan hadits tentang niat di awal kitab-kitab dan karya ilmiyah mereka. Untuk meneguhkan niat mereka agar tetap terjaga dalam keikhlasan hanya mencari ridho Allah swt. Juga untuk mendorong para pembacanya, mengukur lagi azimah hati dalam membaca dan mengambil manfaat darinya. Dan inilah saya, mengikuti sunnah mereka. Mencoba menulis lagi, mencoba bloging lagi, mencoba kembali ke dunia para penikmat kesunyian, dan menjadikan hadits tadi sebagai kutipan di postingan awal ini.

Selain itu, untuk menandai niat melanjutkan proses perbaikan diri, saya buat blog kembaran dari blog wordpress ini. so, setiap postingan di sini akan di-post juga di blog kembarannya.

Semoga langkah ini memantapkan untuk menjadikan diri saya lebih baik. semoga..

Do’akan saja

Cara Mengalahkan Setan

Setan adalah musuh terbesar manusia. Seluruh kehidupannya didedikasikan untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Bahkan, beragam cara dilakukan asal dapat menyesatkan manusia dari kebenaran. Dalam Alquran banyak ayat yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Karena itu, Allah memperingatkan manusia agar tidak mengikuti gerak langkah setan. Sebab, ia akan menjadi ancaman bagi keselamatan manusia.

Imam Fakhrurrazi dalam Tafsir Al-Kabir memberikan pertanyaan retoris. Bagaimanakah manusia bisa selamat dari ancaman setan, karena ia mengepung manusia dari empat penjuru arah mata angin? Bisakah manusia mengalahkan setan yang tak terlihat oleh mata itu? Menurut Imam Fakhrurrazi, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengalahkan setan, yakni atas dan bawah, yakni saat manusia berdoa dan bersujud kepada Allah. Sementara itu, Imam Asy-Sya’rawi menegaskan, sesungguhnya manusia bisa mengalahkan setan, selama ia senantiasa bersama Allah SWT (ma’iyyatullah).

Rasulullah memberikan rahasia kekuatan setan. “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki rumahnya dan menyebut nama Allah ketika masuk dan saat makan, maka setan akan berkata kepada sobat-sobatnya, “Kita tidak punya tempat tidur dan tidak bisa makan malam ini.” Sedangkan apabila ia masuk dan tidak menyebut nama Allah ketika masuk, setan berkata, “Malam ini kita punya tempat untuk tidur.” Dan apabila tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata, “Kita punya tempat untuk tidur dan kita bisa makan malam ini.” (HR Muslim).

Ada sebuah riwayat yang menceritakan pertemuan dua setan. Yang satu berbadan tegap, berpakaian bagus dan berwajah cerah ceria. Sedangkan yang lainnya berbadan kurus, berpakaian compang-camping dan berwajah sedih. “Kenapa keadaanmu begitu menyedihkan? Badanmu kurus kering, pakaianmu compang-camping?” tanya setan pertama.

Setan kedua menjawab, “Manusia-manusia yang kuikuti selalu membaca basmalah saat mereka makan, berpakaian, dan ketika memasuki rumahnya. Bagaimana mungkin aku bisa makan enak, berpakaian bagus, dan tinggal di rumah mereka? Kini aku lemah tak punya tenaga untuk menyesatkan mereka.”

“Sungguh menyedihkan keadaanmu. Berbeda jauh denganku, orang-orang yang kuikuti tak pernah menyebut nama Allah, baik saat makan, minum, berpakaian, ataupun saat masuk ke rumahnya. Sehingga, aku punya kekuatan untuk menyesatkan mereka.”

Sesungguhnya, kunci kekuatan setan adalah di saat manusia lupa dan lalai mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik saat makan, tidur, berpakaian, maupun lainnya, termasuk menjalankan perintah Allah. Dan untuk mengendalikan setan adalah senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya.

Wallahu a’lam.

(dimuat di Koran Republika 09102019)

berlomba dengan matahari

Oo, lelaki yang kalah..

tak kuat berlari, selalu lelah,

tak kenal pantang menyerah,

tak mampu mujahadah,

senantiasa pasrah,

di pelukan selimut yang rebah,

Pagi ini tidurlah,

lelapmu lanjutlah,

matamu rajutlah,

cahayamu tundalah,

Kau memang payah…!!

(dedicated to: diri sendiri sebelum nunjuk orang lain)

duhai jiwa

Duhai jiwa, adakah kau sadari, betapa engkau tak bisa tunduk dalam kuasa ilahi, betapa engkau tak mampu tegak berdiri dalam bimbingan fitri, betapa engkau tak bisa tenang dalam bisikan malaki, betapa engkau tiada arti, hanya menuruti dorongan birahi, hanya mengikuti panggilan syahwati, hanya menaati perintah syaithani, hanya berlari mengejar fatamorgana duniawi.

Duhai jiwa, tak bisakah kau berhenti berlari, tak bisakah kau duduk sendiri, merenung dalam ruang hati, bersimpuh di atas hamparan bakti, menutup mata dari kilau tak asli, dan membukanya tuk mencari cahaya hakiki, menutup telinga dari hingar bingar janji tak pasti, membukanya tuk kedamaian ukhrawi

Duhai jiwa, di mana engkau kini, di persimpangankah engkau berdiri, atau jauh menyimpang dari jalan lempang para Nabi,

Duhai jiwa, ke mana engkau akan pergi, ke mana kakimu menuntun jasmani, ke mana tanganmu menuntun aqli, ke mana fitrahmu tersesat di awal pergi,

Duhai jiwa, bersabarlah, bertahanlah, berjuanglah, bermujahadahlah, bersyukurlah, bertobatlah, berdamailah

Duhai jiwa, sepilah, sendirilah, senyaplah, lenyaplah..

(dalam gelap ruang hati, 10 Mei 2010)

saya menitip istri, bukan sapi

bismillah

Anda pernah mendengar kisah sapi betina? Saya yakin tak hanya pernah, tapi hafal. Kisah sapi yang menjadi latar belakang penamaan surat kedua setelah al-Fatihah itu adalah kisah yang amat termasyhur. Kisah sapi langka yang harus dicari Bani Israil akibat mereka terlalu banyak bertanya atas perintah Allah yang sudah teramat jelas: “sembelihlah seekor sapi betina!!”. Keengganan melaksanakan perintah itu mendorong mereka terus bertanya, sehingga semakin spesifik ciri2 sang sapi, semakin sulitlah dia dicari.

sapi

Siapakah pemilik sapi betina itu? Itulah yang ingin saya ceritakan di sini.

Alkisah, sapi itu milik seorang lelaki yang memiliki seorang istri dan anak yang masih bayi. Sang lelaki adalah seorang shalih yang hanya ingin memberi nafkah keluarganya dengan barang yang sudah jelas halal. Segenap tenaga ia kerahkan untuk menghindari barang haram yang mungkin dimakan istri dan anaknya.

Suatu hari sang lelaki sakit keras. Ia merasa Allah akan segera memanggilnya kembali ke hadiratNya. Tak ada peninggalan yang bisa ia berikan kepada istri dan anaknya, kecuali seekor anak sapi betina yg masih sangat muda.

Maka ia berikhtiar mencari orang yang amanah yang bisa ia titipi sang anak sapi, namun tak ia dapati. Sungguh di zaman itu mencari orang yang bisa membedakan halal haram teramat sulit. Yang ia inginkan, peninggalannya terpelihara tanpa tercampuri barang haram, walaupun ia hanya seekor sapi. Akhirnya ia hadapkan wajahnya ke langit seraya berdoa,

“ya Allah, kutitipkan sapi ini kepadaMu sampai anakku besar nanti. Kembalikanlah sapi ini kepadanya saat tiba waktunya nanti”

Saat ia kembali ke rumahnya ia ceritakan hal itu kepada sang istri. ia bertanya, “di mana kau tinggalkan sapi itu?”

“di tengah padang rumput” jawabnya.

Tak lama kemudian ruh sang lelaki meninggalkan jasadnya.

Singkat cerita, saat sang anak dewasa ibunya menceritakan perihal sapi warisan ayahnya. Segera ia ke padang rumput. Tak lupa ia berdoa,

“ya Allah, Rabb Ibrahim dan Ya’qub, aku bertawakkal kepadaMu, kembalikanlah kepadaku titipan ayahku.”

Ajaib, sapi itu ada di sana!!

Inilah dia, sapi yang dicari kaum Nabi Musa. Yang umurnya tak terlalu tua, tak terlalu muda. Yang berwarna kuning mencolok mata. Yang tak pernah dipakai kerja di ladang dan pesawahan.

Inilah dia, sapi yang Allah pelihara secara langsung. Yang dibeli kaum nabi Musa dengan emas seberat kulitnya. Yang setelah disembelih, bagian tubuhnya membangkitkan orang yang sudah tak bernyawa: dengan perintah Allah tentunya.

Hikmah cerita ini, kata Imam Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya, keshalihan orang tua akan menjadi pemelihara dan pengundang berkah bagi turunannya.

Lalu apa hubungannya dengan istri saya?

Saat hendak meninggalkan istri yang baru 10 hari saya nikahi, saya teringat kisah ini. Maka segera saya bersujud seraya berdoa,

“Ya Allah Yang Maha Memelihara, kepadaMu, saya menitip istri saya..!!”

(NB: ka bapa ibu (mertua) n mamah bapa, hapunten ngarepotkeun wae..!!)

status baru: oleh2 dari surga

Bismillah

“Perkokohlah bahteramu karena samudra ini amat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan ini amat panjang. Ikhlaskanlah amalmu karena pencatatmu sungguh amat jeli.” (nasihat Rasulullah kepada Abu Dzar)

oleh2 dari surga

Sudah satu bulan lebih gak pulang ke rumah saya ini. Bukan maksud hati untuk seterusnya melupakan. Untuk sementara saja, saya memang mesti fokus pada hal lain. Ya, sebagai seorang insan yang lemah saya kurang mampu untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Alhamdulillah, hari ini bisa sekadar menengok dan menyapa kembali. Di tengah puncak kesibukan, saya memutuskan kembali menempuh jalan sunyi ini meski cuma sebentar. Agar bisa sekadar refreshing dan melihat masalah yang saya hadapi dari luar. Mudah-mudahan saja ada pencerahan.

Ke mana saja sebulan ini?

Seperti telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya sedang melangkah untuk membangun rumah di alam nyata. Momen itu terjadi di tanggal 23 juli kemaren. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, hal ini tak lepas dari doa kawan-kawan semuanya.

Ternyata, menjalani hidup dengan status baru itu menyenangkan ya!!! Hehe, iya lah masa penantian yang begitu lama akhirnya datang juga, semuanya terasa indah. Terus terang sampai sekarang saya masih merasa bermimpi. Apalagi sekarang sedang jauh dari istri, mimpi itu datang hampir tiap saat, hehe.

Masih ingat banget di tanggal 23 itu. Saat nasihat di khutbah nikah ditujukan kepada kami, calon suami istri. Nasihat yang disampaikan bapak saya sendiri. Nasihat yang hanya dipahami kami bertiga: saya, calon istri dan bapak, karena disampaikan dalam bahasa Arab. Yang, walaupun di akhir khutbah diterjemahkan, ada bagian2 tertentu yang tak beliau sampaikan. Sebab isinya khusus buat saya, anak lelakinya. Namun, agar anda tak penasaran, poin pentingnya adalah nasihat Rasulullah kepada Abu Dzar di atas.

Dan kini, penantian itu memang harus terjadi lagi. Setelah sepuluh hari menikah, terpaksa saya harus meninggalkan istri dan semua kehangatan suasana pengantin baru. Saya harus kembali melanjutkan tugas saya yang belum rampung di Gontor, masih satu setengah bulan lagi. Dan saya tak mungkin membawa istri saya ke sana. Maklum di Gontor tinggal di asrama yang pengisinya laki-laki semua. Apa jadinya kalau saya membawa istri saya? Saya sih enak, tapi kasihan kawan-kawan saya, hehe.

Walau begitu ada hikmah yang saya dapatkan. Nanti kalau pulang ke istri, saya akan berbulan madu kembali.

wassalam

rumahku…

bismillah

sudah teramat lama saya tidak pulang ke rumah saya ini. banyak tamu yang tak terlayani. banyak sapa yang tak terbalas. ah, betapa berantakannya rumah saya ini!! mohon maaf kepada semuanya.

gubuk_di_ladang

sungguh, sebenarnya saya ingin menjadikan blog ini sebagai surga. surga bagi saya sendiri tentunya. mudah-mudahan bagi orang lain juga. bukankah baitiy harus jannatiy? rumahku menjadi surgaku? namun, betapa sulit untuk mewujudkan itu. bahkan sekedar di dunia maya sekali pun.

berkali-kali saya kehilangan semangat untuk mewujudkan surga itu. berkali-kali saya bosan tinggal berlama-lama di sini. berkali-kali saya tak peduli. berkali-kali saya lupa kepada beberapa teman yang sering berkunjung ke sini. berkali-kali dan berkali-kali lainnya.

mungkin anda mau berbagi dengan saya. berbagi tips untuk mewujudkan rumah yang surga itu. saya harap begitu.

hm, kira-kira seminggu lagi, saya akan mulai membangun rumah itu di alam nyata. mudah-mudahan nasibnya tak seperti blog ini.

semoga, amin!!

bahasa perdamaian dan persaudaraan

bismillah

setelah hampir seminggu koneksi internet ngaco, alhamdulillah bisa kembali lagi ke sini. jalan sunyi yang kudus, begitu sahabat saya menyebut jalan yang saya tempuh ini. sahabat, engkau memang paling bisa membuat istilah-istilah baru, hingga dunia kita tak lagi bisu.

ngomong-ngomong tentang peristilahan, saya teringat ketika jaman SD dulu pernah menemukan pertanyaan seperti ini:

“siapakah penemu benua amerika?”

dulu kita pasti menjawab Christoper Columbus, sebab itulah yang diajarkan guru-guru kita saat itu. sambil iseng-iseng ke sana ke mari, saya menemukan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa jauh sebelum Colombus menginjak benua Amerika, seorang muslim telah lebih dulu sampai di sana. dialah Laksamana Cheng Ho, seorang muslim China yang beberapa bulan kemarin filmnya ditayangkan di salah satu tivi swasta kita. lengkapnya, artikel itu bisa anda buka di sini.

sebetulnya saya cuma penasaran, kenapa harus ada istilah penemu benua? bukankah benua amerika sejak dulu telah ada?

Continue reading

menemukan jodoh

Bismillah

Mungkinkah menemukan suami atau istri tanpa pacaran terlebih dahulu?”

Seorang murid saya mengajukan pertanyaan ini tadi siang. Dia seorang gadis yang sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Bandung, jurusan pendidikan bahasa Inggris. Hm, dia salah satu murid paling cerdas yang pernah saya miliki. Saat Tsanawiyah dulu, hanya dia yang mencapai nilai sempurna dalam pelajaran saya, begitu juga di pelajaran lainnya. Seingat saya, sampai saat ini, belum ada murid lain yang memecahkan rekornya. Dan kini dia sudah dewasa, mulai merasakan gejolak hati orang-orang dewasa. Kebingungan dan kebimbangan dalam menjawab tantangan-tantangan hidup. Apalagi ketika tantangan itu, bergesekan atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Itulah dia, murid yang sampai saat ini masih saya banggakan.

Continue reading