saya menitip istri, bukan sapi

bismillah

Anda pernah mendengar kisah sapi betina? Saya yakin tak hanya pernah, tapi hafal. Kisah sapi yang menjadi latar belakang penamaan surat kedua setelah al-Fatihah itu adalah kisah yang amat termasyhur. Kisah sapi langka yang harus dicari Bani Israil akibat mereka terlalu banyak bertanya atas perintah Allah yang sudah teramat jelas: “sembelihlah seekor sapi betina!!”. Keengganan melaksanakan perintah itu mendorong mereka terus bertanya, sehingga semakin spesifik ciri2 sang sapi, semakin sulitlah dia dicari.

sapi

Siapakah pemilik sapi betina itu? Itulah yang ingin saya ceritakan di sini.

Alkisah, sapi itu milik seorang lelaki yang memiliki seorang istri dan anak yang masih bayi. Sang lelaki adalah seorang shalih yang hanya ingin memberi nafkah keluarganya dengan barang yang sudah jelas halal. Segenap tenaga ia kerahkan untuk menghindari barang haram yang mungkin dimakan istri dan anaknya.

Suatu hari sang lelaki sakit keras. Ia merasa Allah akan segera memanggilnya kembali ke hadiratNya. Tak ada peninggalan yang bisa ia berikan kepada istri dan anaknya, kecuali seekor anak sapi betina yg masih sangat muda.

Maka ia berikhtiar mencari orang yang amanah yang bisa ia titipi sang anak sapi, namun tak ia dapati. Sungguh di zaman itu mencari orang yang bisa membedakan halal haram teramat sulit. Yang ia inginkan, peninggalannya terpelihara tanpa tercampuri barang haram, walaupun ia hanya seekor sapi. Akhirnya ia hadapkan wajahnya ke langit seraya berdoa,

“ya Allah, kutitipkan sapi ini kepadaMu sampai anakku besar nanti. Kembalikanlah sapi ini kepadanya saat tiba waktunya nanti”

Saat ia kembali ke rumahnya ia ceritakan hal itu kepada sang istri. ia bertanya, “di mana kau tinggalkan sapi itu?”

“di tengah padang rumput” jawabnya.

Tak lama kemudian ruh sang lelaki meninggalkan jasadnya.

Singkat cerita, saat sang anak dewasa ibunya menceritakan perihal sapi warisan ayahnya. Segera ia ke padang rumput. Tak lupa ia berdoa,

“ya Allah, Rabb Ibrahim dan Ya’qub, aku bertawakkal kepadaMu, kembalikanlah kepadaku titipan ayahku.”

Ajaib, sapi itu ada di sana!!

Inilah dia, sapi yang dicari kaum Nabi Musa. Yang umurnya tak terlalu tua, tak terlalu muda. Yang berwarna kuning mencolok mata. Yang tak pernah dipakai kerja di ladang dan pesawahan.

Inilah dia, sapi yang Allah pelihara secara langsung. Yang dibeli kaum nabi Musa dengan emas seberat kulitnya. Yang setelah disembelih, bagian tubuhnya membangkitkan orang yang sudah tak bernyawa: dengan perintah Allah tentunya.

Hikmah cerita ini, kata Imam Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya, keshalihan orang tua akan menjadi pemelihara dan pengundang berkah bagi turunannya.

Lalu apa hubungannya dengan istri saya?

Saat hendak meninggalkan istri yang baru 10 hari saya nikahi, saya teringat kisah ini. Maka segera saya bersujud seraya berdoa,

“Ya Allah Yang Maha Memelihara, kepadaMu, saya menitip istri saya..!!”

(NB: ka bapa ibu (mertua) n mamah bapa, hapunten ngarepotkeun wae..!!)

status baru: oleh2 dari surga

Bismillah

“Perkokohlah bahteramu karena samudra ini amat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan ini amat panjang. Ikhlaskanlah amalmu karena pencatatmu sungguh amat jeli.” (nasihat Rasulullah kepada Abu Dzar)

oleh2 dari surga

Sudah satu bulan lebih gak pulang ke rumah saya ini. Bukan maksud hati untuk seterusnya melupakan. Untuk sementara saja, saya memang mesti fokus pada hal lain. Ya, sebagai seorang insan yang lemah saya kurang mampu untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Alhamdulillah, hari ini bisa sekadar menengok dan menyapa kembali. Di tengah puncak kesibukan, saya memutuskan kembali menempuh jalan sunyi ini meski cuma sebentar. Agar bisa sekadar refreshing dan melihat masalah yang saya hadapi dari luar. Mudah-mudahan saja ada pencerahan.

Ke mana saja sebulan ini?

Seperti telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya sedang melangkah untuk membangun rumah di alam nyata. Momen itu terjadi di tanggal 23 juli kemaren. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, hal ini tak lepas dari doa kawan-kawan semuanya.

Ternyata, menjalani hidup dengan status baru itu menyenangkan ya!!! Hehe, iya lah masa penantian yang begitu lama akhirnya datang juga, semuanya terasa indah. Terus terang sampai sekarang saya masih merasa bermimpi. Apalagi sekarang sedang jauh dari istri, mimpi itu datang hampir tiap saat, hehe.

Masih ingat banget di tanggal 23 itu. Saat nasihat di khutbah nikah ditujukan kepada kami, calon suami istri. Nasihat yang disampaikan bapak saya sendiri. Nasihat yang hanya dipahami kami bertiga: saya, calon istri dan bapak, karena disampaikan dalam bahasa Arab. Yang, walaupun di akhir khutbah diterjemahkan, ada bagian2 tertentu yang tak beliau sampaikan. Sebab isinya khusus buat saya, anak lelakinya. Namun, agar anda tak penasaran, poin pentingnya adalah nasihat Rasulullah kepada Abu Dzar di atas.

Dan kini, penantian itu memang harus terjadi lagi. Setelah sepuluh hari menikah, terpaksa saya harus meninggalkan istri dan semua kehangatan suasana pengantin baru. Saya harus kembali melanjutkan tugas saya yang belum rampung di Gontor, masih satu setengah bulan lagi. Dan saya tak mungkin membawa istri saya ke sana. Maklum di Gontor tinggal di asrama yang pengisinya laki-laki semua. Apa jadinya kalau saya membawa istri saya? Saya sih enak, tapi kasihan kawan-kawan saya, hehe.

Walau begitu ada hikmah yang saya dapatkan. Nanti kalau pulang ke istri, saya akan berbulan madu kembali.

wassalam

bahasa perdamaian dan persaudaraan

bismillah

setelah hampir seminggu koneksi internet ngaco, alhamdulillah bisa kembali lagi ke sini. jalan sunyi yang kudus, begitu sahabat saya menyebut jalan yang saya tempuh ini. sahabat, engkau memang paling bisa membuat istilah-istilah baru, hingga dunia kita tak lagi bisu.

ngomong-ngomong tentang peristilahan, saya teringat ketika jaman SD dulu pernah menemukan pertanyaan seperti ini:

“siapakah penemu benua amerika?”

dulu kita pasti menjawab Christoper Columbus, sebab itulah yang diajarkan guru-guru kita saat itu. sambil iseng-iseng ke sana ke mari, saya menemukan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa jauh sebelum Colombus menginjak benua Amerika, seorang muslim telah lebih dulu sampai di sana. dialah Laksamana Cheng Ho, seorang muslim China yang beberapa bulan kemarin filmnya ditayangkan di salah satu tivi swasta kita. lengkapnya, artikel itu bisa anda buka di sini.

sebetulnya saya cuma penasaran, kenapa harus ada istilah penemu benua? bukankah benua amerika sejak dulu telah ada?

Lanjut membaca

menemukan jodoh

Bismillah

Mungkinkah menemukan suami atau istri tanpa pacaran terlebih dahulu?”

Seorang murid saya mengajukan pertanyaan ini tadi siang. Dia seorang gadis yang sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Bandung, jurusan pendidikan bahasa Inggris. Hm, dia salah satu murid paling cerdas yang pernah saya miliki. Saat Tsanawiyah dulu, hanya dia yang mencapai nilai sempurna dalam pelajaran saya, begitu juga di pelajaran lainnya. Seingat saya, sampai saat ini, belum ada murid lain yang memecahkan rekornya. Dan kini dia sudah dewasa, mulai merasakan gejolak hati orang-orang dewasa. Kebingungan dan kebimbangan dalam menjawab tantangan-tantangan hidup. Apalagi ketika tantangan itu, bergesekan atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Itulah dia, murid yang sampai saat ini masih saya banggakan.

Lanjut membaca

sekadar curhat tadi malam

Bismillah..

Hidup. Apa yang saya rasakan dalam hidup ini begitu tak terduga. Cara Allah mengantarkan saya ke tempat ini tak pernah saya sangka sebelumnya. Sejak bulan Februari kabar tentang kegiatan di Gontor ini telah saya dengar. Yang saya dengar waktu itu, program ini adalah S2-nya Gontor, ternyata bukan.

Di akhir Februari, saat berbicara dengan seorang rekan, terus terang saya merasa tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Namun, karena rencana menikah yang telah terjadwal di bulan Juli, saya tak melanjutkan rasa tertarik itu menjadi niat, apalagi tekad. Rasa tertarik itu akhirnya pupus seiring waktu.

Baru, pada akhir Maret, ketika saya mengikuti sebuah kegiatan di Ciputri Lembang, jalan itu terbuka. Di malam terakhir kegiatan itu, saya mendapat panggilan dari ust Tresna. Beliau ini adalah calon paman saya. Dia paman dari calon istri saya. Panggilan yang mendadak itu berbuntut kepada pengambilan keputusan yang harus mendadak pula. Saya diminta untuk memberikan keputusan saat itu pula, siap atau tidak. Jika siap, akan ditindaklanjuti dengan menghubungi panitia di Gontor, kata kang Tiar. Kang Tiar ini adalah panitia kegiatan yang juga aktif di INSIST dan cukup dekat dengan Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, direktur kegiatan di Gontor . Saat itu ust Tresna mendorong saya untuk ikut, sebab materi yang disampaikan di sana sangat berbobot dan berharga buat pengembangan ilmu di kampung halaman nanti. Buat saya pribadi, ataupun buat masyarakat, begitu kata beliau. Ada pun masalah jadwal nikah, kata beliau, “biar saya yang akan berbicara dengan KD”. KD yang dimaksud bukan Krisdayanti, tapi bapaknya calon istri saya. Mendapat angin segar seperti itu, hasrat ketertarikan yang dulu pernah ada, terbit kembali. Walaupun belum yakin seratus persen, saya sanggupi tawaran itu.

Lanjut membaca

bukan cinta biasa

bismillah awan cinta

cintaku bukanlah cinta biasa

jika kamu yang memiliki

dan kamu yang temaniku

seumur hidupku

yang di atas itu, penggalan liriknya lagu bukan cinta biasa. (ga perlu disebutin, orang2 dah pada tau..!)

akhir-akhir ini, saya sedang suka lagunya afgan syah reza itu. gak tau kenapa tiba-tiba nyentuh ke hati saya. mungkin karena saya sedang kasmaran yah!! (hehe, udah tua ko masih kasmaran..!) but eniwei, yang jelas suara afgan memang merdu dan sang pencipta (dengan p kecil) kreatip sekali buat lagu yang nyentuh banget. hmm, sungguh maha agung Sang Pencipta (dengan P besar) yang mencipta beragam suara indah juga manusia beserta kreatifitasnya, harusnya kita lebih tersentuh…! :)

karena tersentuhnya hati saya itulah, tiba-tiba saya iseng-iseng cari informasi tentang lagu itu. dan ternyata lagu itu adalah original soundtrack dari sebuah film dengan judul yang sama: BUKAN CINTA BIASA (ga perlu disebutin, orang2 udah pada tau. ketinggalan banget sih loh..!). awalnya saya berpikir, filmnya pasti cinta-cintaan remaja, yang pasti cengeng dan cuma eksploitasi artis wajah-wajah indo yang akhirnya rentan zina mata, zina hati. (tadinya saya mau muat poto olivia lubis jensen, pemeran film itu di sini, tapi gak jadi ah, hehe..! saya ganti poto awan aja yah..!)

dan ternyata saya salah. dari berita yang saya baca di sini, film itu bukan tentang cinta biasa, walau saya yakin cinta remaja yang biasa-biasa pun jadi bumbunya. film itu ternyata film yang menurut blog ini adalah “film komedi yang diam-diam berdakwah”. bahkan MENPORA menyebutnya, “membawa pesan religius”.  dan bukan hanya menpora yang nonton, ketua PP Muhamadiyah (pak din), ketua MUI (pak amidhan) dan beberapa pejabat pun ikut nonton (heran, kok pejabat sekarang banyak yang suka nonton yah? jangan2 sudah jadi acara rutin kenegaraan yang biayanya diambil dari uang rakyat?? mudah-mudahan nggak). lebih lanjut menpora bilang gini,

“Awalnya saya agak ragu juga diajak nonton Pak Din (Syamsudin [Ketua Umum PP Muhammadiyah]). Saya pikir ini film cinta-cintaan anak remaja, tapi setelah nonton, saya baru tahu bahwa film ini pesan moral sangat baik. Tentang hubungan anak dengan ayah. Mantan istri dan suami. Istri saya saja sampai nangis terharu,”

akhirnya, saya jadi penasaran pengen nonton juga. tapi, berhubung di ponorogo cuma ada satu bioskop, itu pun satu-satunya, dan masih menayangkan film-film jadul, keinginan nonton film itu saya pendam bersama keinginan menonton film-film lain seumpama: Angel n Demon, KCB, X Men Origin, Night at Museum 2 dan lain-lain.

kembali ke lagunya afgan, kesimpulannya, mungkin, lagu itu bukan tentang cinta kepada lawan jenis yang belum halal, tapi cinta orang tua kepada anaknya, cinta anak kepada orang tuanya sebagaimana isi filmnya. tapi, duh… kok lagu itu seolah menempel terus di telinga saya ya..!! memaksa lidah saya terus menyenandungkannya, dan mengingatkan saya kepada seseorang nun jauh disana..!!

ah.. namun saya cepat-cepat tepis khayalan saya itu. dan saya senandungkan lagu itu dengan sedikit gubahan dari saya

cintaku bukanlah cinta biasa

jika Kamu (ya Allah) yang memiliki

dan Kamu (ya Allah) yang temaniku

seumur hidupku..

“ya Allah, ya Muhibb, ya Waduud, ya Rahman, ya Rahiim, jadikan cintaku kepada sesama mahluk adalah cinta biasa-biasa saja, dan jadikan cintaku kepadaMu bukan cinta biasa, tapi cinta yang mendasari cintaku kepada selainMu..!” amiin..!

tamparan yang manis

bismillah

“knp ya akhir2 ni firasat ana ga enak trus sm antum? bawaannya suudzan. yowis, ma’assalamah. wassalam”

sms ini saya terima dari sahabat terdekat saya kemarin. sms ini adalah tamparan bagi saya. seolah-olah saya tidak pernah membaca hadits yang menjelaskan keutamaan akhlak kepada sesama. sekadar mengingatkan kembali, bukankah saya sudah hafal hadits-hadits berikut ini:

“sebaik-baiknya kalian adalah, yang paling baik perlakuannya kepada manusia”.

“janganlah kalian meremehkan kebaikan (ma’ruf), walaupun hanya memperlihatkan wajah manis di hadapan saudaramu.”

“amal yang paling banyak memasukkan manusia ke surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”

“tidak akan masuk surga, orang yang suka memutus, yakni pemutus silaturahim”

dan lain-lain..

sudahkah kita menjadi orang yang memperlakukan orang-orang terdekat kita dengan baik?

pertanyaan inilah yang mungkin hilang dari pikiran saya akhir-akhir ini. saya terlalu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, sehingga lupa segalanya. melupakan anda para blogger dan mereka nun jauh di tanah air saya. saya sudah sangat jarang bersilaturahim, sekadar menjawab komentar pun sudah amat jarang, apalagi blog walking, menyapa, memberi komentar, curhat dll.

dan saya juga sudah jarang memberi kabar kepada orang-orang terdekat nun jauh di sana di lemah cai (tanah air) di bandung. sekadar menyapa, sms, atau memberi kabar tentang keadaan saya di sini.

duh semuanya, maafkan saya yah..!

hmm, sms itu memang benar-benar tamparan buat saya. tamparan yang manis. sebab ia adalah peringatan agar saya segera kembali ke jalan yang benar. sebuah tadzkirah agar saya selalu meniatkan diri menjadi orang yang bermanfaat buat orang lain. agaknya sekadar say hello pun merupakan sebentuk perhatian yang lumayan besar efeknya, buat kita dan orang yang kita sapa. jika kita melaksanakannya dengan sepenuh hati, sejernih jiwa dan seikhlas-ikhlasnya niat.

namun selain tamparan, sms itu pun adalah sebuah belaian lembut ketulusan. sebab tiada cara yang lebih indah ketika kita memiliki prasangka buruk kepada orang lain, selain kita mengungkapkannya kepada orang yang bersangkutan. agar lahir pengertian, agar hadir pemaafan, dan agar berujung saling mendo’akan. setidaknya demikian menurut sahabat saya itu,

“daripada dipendam sendiri dan jadi dosa, lebih baik diungkapkan langsung..!”

sahabat saya menjelaskan alasannya, saat saya hubungi dia sesudah sms itu masuk. hmm, indah bukan?

maka kepada sang pengirim sms,

“terima kasih atas tamparan manismu. terima kasih atas belaian tulusmu. engkaulah sahabat terbaikku, engkaulah teman sejatiku. semoga ikatan hati kita tak berujung di kematian, tetapi berujung surga. maafkan jika aku tak mampu memberikan perhatian seperti kau memberi perhatian teramat besar kepadaku”.

dan kepada anda,

“terima kasih telah membaca, maafkan jika ada banyak kesalahan saya kepada anda. semoga silaturahmi ini berbuah kebaikan.”

oia, jika suatu hari sms itu masuk ke HP anda, kira-kira apa yang akan anda lakukan?

yang mau jawab, di komen saja yah..! hehe, kok jadi quiz nih..!

makasiih..!

menghafal Quran dan tour de jatim

bismillah

dahulu, alQuran dihafal sebagai wasilah untuk memahami, mengamalkan dan menegakkannya di muka bumi. ia adalah jalan, bukan tujuan.”

itu yang saya dengar dari Dr. Dihyatun Masqon, MA., dosen di gontor, saat seminar barusan. benar-benar jadi inspirasi dan pencerahan buat saya.

kadang-kadang, di antara kita banyak yang menjadikan menghafal Quran sebagai tujuan. targetnya harus bisa hafal 30 juz dalam periode waktu tertentu. sehingga hifdzul Quran menjadi sebuah kegiatan yang dilakukan tanpa ruh. tentu saja memiliki target seperti ini bukan salah, malah bagus. tapi alangkah lebih baik kita tidak menjadikannya tujuan, sebab ia hanyalah  jalan. jalan menuju tegaknya Islam, jalan untuk keselamatan dunia akhirat. Allah pun menyebutnya Subulus Salam alias jalan keselamatan (al-Maidah 16), jalan yang akan mengantar kepada shirat al-mustaqim.

ada yang lebih repot, yaitu orang yang menghendaki tegaknya Islam, tapi hanya dengan modal teriak saja. tanpa menapaki jalannya. ibaratnya, dia hendak menyeberangi sungai yang sangat lebar, tapi malas membuat jembatan, membuat perahu atau belajar berenang. akan sampaikah? ya nggak laah..!

namun, yang lebih repot lagi adalah orang yang takut tantangan. melihat sungai yang lebar itu dia hanya diam di pinggirannya, tak berbuat apa-apa dan berharap ada orang lain yang mau mengantarnya ke seberang sungai.

itulah sebagian dari hikmah dari kegiatan saya di gontor sebulan ini. sangat banyak manfaat yang saya dapatkan. tapi karena padatnya kegiatan itulah, seminggu ini saya tidak bisa posting, blogwalking atau silaturahmi dengan kawan-kawan blogger yang sangat saya cintai. hehe, this is come from the deepest of my heart (pak heri mulyo cahyo wajib meralatnya kalo kalimat saya ini salah, maaf pak).

oia, seminggu yang lalu saya sempat jalan-jalan ke beberapa kota di jatim. hehe, tepatnya sih bukan jalan-jalan, tapi lewat doang. saya berkunjung ke kota pasuruan dan malang. jadi lumayan, dari ponorogo ada beberapa kota dan kabupaten yang saya lewati, semisal mojokerto, sidoarjo, surabaya, jombang dan lain-lain yang tak sempat saya hafal karena tidur di bis, hehe.

alhamdulillah, banyak hikmah yang saya dapatkan dari kunjungan ke dua kota tersebut. namun, tak banyak yang bisa saya bagi di sini. mudah-mudahan bisa saya bagi di kesempatan yang lain. tapi, ada satu hal yang teramat menarik yang saya dapatkan di kota malang. alhamdulillah saya sempat memotretnya,

ternyata, pak hari mulyo (hari apa heri..?!?? hehe) punya tempat parkir khusus di kota malang. pejabat yah?

(hehe, maaf becanda pak..!)

wisata kuliner 1

bismillah

seminggu di ponorogo, baru bisa keluar asrama dua kali. itu pun dikawal staf asrama, hehe.

alhamdulillah sempat wisata kuliner berkunjung ke BAKSO MORO SENENG.

ini kali pertama bagi saya mencicipi baso buatan orang jawa di daerahnya sendiri. ternyata rasanya agak jauh berbeda dengan baso-baso yang mereka ekspor ke luar jawa.

salah satu perbedaan yang mendasar adalah rasa basonya itu lebih empuk-empuk kenyal. lebih huebuatnyah lagih, dari empat buah bulatan baso yang disajikan, kelezatannya berbeda-beda. POKO’E MAKNYOSSS…!

satu lagi perbedaan yang kentara adalah: dalam sajian sepiring baso itu, selain yang biasa di bandung (ada sayuran dan toge) ditaburkan pula potongan-potongan kecil kol yang menambah indah nian baso itu, sehingga menambah semangat dan ghiroh kita untuk segera mencicipi (hehe).

sajian minuman pelengkap makan baso adalah segelas besar ES DEGAN (es kelapa muda). bedanya dengan es kelapa muda yang biasa disajikan di bandung adalah:

- Air yang digunakan adalah air asli dari kelapanya.

- kelapa yang diparut sangat-sangat tipis, tak seperti parutan kelapa di es kelapa muda biasa.

- gula yang digunakan gula jawa asli (gula merah jawa, bukan gula pasir) sehingga sensasi rasanya lebih lezaat.

itu sekadar oleh-oleh seminggu di ponorogo. maaf kalo apa yang saya ceritakan tak terlalu pas dengan kenyataannya. mungkin yang asli dari ponorogo bisa menjelaskannya dengan lebih pas. mohon maaf juga saya tidak bisa menampilkan potonya, saya tidak bawa kamera.

mudah-mudahan di lain waktu ada sajian lain yang saya bagi. sajian dari anda saya tunggu.

salam kuliner dari ponorogo..!

hehe

gontor, here i am

bismillah
setelah beberapa minggu tak bisa menambah postingan karena kesibukan yang begitu mendera bertubi-tubi, alhamdulillah saya bisa muncul lagi. ini pun di sela-sela kesibukan kegiatan nyantri di gontor. alhamdulillah, kami diberi fasilitas internet 24 jam walau lemot banget. lho, kok nyantri lagi? yah begitulah…

sudah dua hari saya berada di gontor, tepatnya di kampus ISID (institut studi islam darussalam). saya berada di sini dalam rangka pupujieun (cari pujian), hehe, maaf bukan itu deh. jelasnya saya ada di sini untuk mengikuti salah satu program yang diadakan di gontor bernama pku (singkatan, ya iyalah..!!). mohon maaf, saya tidak akan jelaskan apa itu pku, kalo baca kepanjangannya harusnya saya malu.

saya berangkat dari tanah air, dianter keluarga ortu dan calon mertua. calon mertua saya itu emang baik banget. beliau rela nganter sampe ke cicaheum (terminal bis antar kota di bandung). hebatnya lagi beliau-lah yang pertama kali dukung saya untuk pergi ke gontor, meskipun, dengan persetujuannya itu, rencana pernikahan saya dengan putrinya harus mundur beberapa bulan (hiks..!). eniwei that’s not a big problem, calon istri saya pun dukung saya untuk berangkat.

hm, ternyata hidup di gontor itu menyenangkan. suasananya sejuk (bukan cuacanya ya, coz teuteup bandung lebih cool), buat belajar enak, perpustakaan lengkap (di ISID saja ada tiga, belum di gontor 1 dan 2), komputer dikasih satu ewang (ewang : masing2), gak banyak maksiat (coz di kampusnya laki-laki semua, jadi gak banyak zina mata), makan dijamin tiga kali sehari, ruang tidur lengkap dengan kamar mandi di dalamnya, fasilitas olah raga segala ada, dan fasilitas lainnya, cuma uang saku aja yang ga dikasih.

insya Allah kegiatan yang diselenggarakan di gontor ini akan saya jalani selama enam bulan. so, for the next 6 month, i’ll be a wong jowo, walaupun ga bisa boso jowo.

so, gontor here i am..!