Menumbuhkan Komunikasi yang Baik

Komunikasi adalah kunci utama seorang guru untuk memasuki dunia murid. Seringkali gap usia yang cukup jauh antara guru dan murid membuat guru berjarak dengan murid. Padahal transfer ilmu dan nasehat-nasehat yang mendidik hanya bisa dilakukan jika guru dan murid sama-sama berdekatan jaraknya, baik jarak fisik ataupun psikis. Bagaimana membangun komunikasi yang baik, tulisan di bawah ini akan membahas secara singkat.

Selama ini ada anggapan semakin sering guru melakukan komunikasi dengan muridnya, makin baik hubungan mereka. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi itu dilakukan, tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Bilac antara guru dan murid berkembang sikap curiga, maka semakin sering guru berkomunikasi bukannya semakin dekat, tetapi jarak mereka akan semakin jauh. Hubungan yang baik tidak ditentukan oleh kuantitas komunikasi, tetapi ditentukan oleh kualitas komunikasinya. Ada tiga hal yang dapat menumbuhkan hubungan komunikasi yang baik, yaitu percaya, sikap suportif dan sikap terbuka.

Percaya (Trust) adalah faktor yang paling penting dalam membangun hubungan yang baik. Jika murid percaya kepada gurunya, percaya bahwa gurunya menghendaki kebaikan baginya, percaya bahwa gurunya tidak akan mengkhianati atau merugikannya, maka dia akan lebih banyak membuka dirinya. Lalu bagaimana guru mendapat kepercayaan dari murid? Kata kuncinya adalah integritas. Integritas adalah harga mati bagi seorang guru. Jika guru berlainan antara ucapan dan perbuatannya, maka hilanglah integritasnya, hilang pula kepercayaan muridnya. Ketika guru, misalnya, menekankan kedisiplinan kepada murid tetapi dia sendiri tidak disiplin, hilanglah integritas itu.

Sebaliknya bagi guru, tanamkanlah dalam hati bahwa semua murid dapat dipercaya. Tumbuhkanlah sikap menerima bagaimana pun keadaan murid. Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. Dengan penerimaan yang baik, guru akan mendapatkan kepercayaan. Dan dengan kepercayaan murid akan mampu diarahkan kepada perilaku yang baik.

Faktor kedua dalam menjalin hubungan yang baik adalah sikap suportif. Sikap suportif adalah sikap mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis. Sikap defensif biasanya lahir ketika guru merasa lebih superior dari murid. Superior artinya sikap menunjukkan anda lebih tinggi atau lebih baik daripada orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan dan lain-lain. Kebalikannya adalah sikap egaliter (persamaan). Komunikasi yang baik akan tumbuh ketika guru menganggap dirinya sama dengan murid. Dalam sikap egaliter guru tidak mempertegas perbedaan. Status boleh jadi berbeda, tetapi komunikasi tidak vertikal. Guru tidak menggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama.

Faktor ketiga yang menentukan tumbuhnya komunikasi yang baik adalah sikap terbuka (open-mindedness). Guru yang baik akan bersikap layaknya lautan yang menerima asupan air dari hilir-hilir sungai. Ketika murid berkomunikasi dengannya, ia menahan dirinya dari mengomentari, menilai atau mendogma murid. Biarkan murid-murid mengungkapkan isi hatinya. Hilangkan pikiran-pikiran yang menuntut murid harus begini atau begitu. Kalaupun yang disampaikan murid mengandung kesalahan, hal itu dapat diperbaiki setelah murid menumpahkan semua ide dan pendapat yang ada dalam pikirannya.

Proses belajar mengajar akan berjalan baik hanya jika terjalin komunikasi yang baik. Faktor-faktor untuk mewujudkan komunikasi yang baik di atas, pertama-tama harus dimiliki oleh guru, sebab fungsi guru selain sebagai pendidik adalah komunikator. Pemahaman tentang komunikasi yang baik akan menjadi modal utama bagi guru untuku menyukseskan murid-muridnya. Wallahu a’lam.

*dimuat di harian Pikiran Rakyat hari Jumat, 28 Agustus 2015

Menumbuhkan Komunikasi

Tugas Ulama di Masa Krisis

Peran para ulama di Indonesia saat ini masih belum memberikan solusi berarti bagi permasalahan bangsa. Hal ini diakui oleh KH. Makruf Amin di sela-sela perhelatan Munas MUI ke-9 di Surabaya baru-baru ini. Menurutnya, MUI sebagai representasi para ulama baru memiliki kemampuan untuk menghimbau. Tak kurang tak lebih. Bahkan dalam sambutannya, Presiden Jokowi lebih menyempitkan peran MUI itu hanya sebagai motivator saja. Presiden mengungkapkan harapannya agar MUI memandu dan membangkitkan optimisme umat di tengah melemahnya kondisi ekonomi tanah air. Pernyataan presiden tersebut, tidak mustahil, malah menjadi pembenaran tesis kaum Marxis bahwa agama adalah candu masyarakat. Agama difungsikan sebagai pengalihan dan pelarian dari permasalahan hidup. Hal ini tentu saja sangat menyimpang mengingat peran yang seharusnya dimainkan oleh para ulama. Tulisan ini akan menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh para ulama di tengah gelombang krisis.
Pewaris Nabi
Dalam ajaran Islam, ulama menempati posisi sentral. Kata Rasulullah Saw: “Ulama adalah pewaris para nabi. Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak juga dirham, melainkan mereka hanya mewariskan ilmu”. Rasulullah juga memposisikan para ulama laksana bintang yang menjadi tempat umat mendapat bimbingan dan petunjuk. Maka dalam sejarah Islam ulama memegang peran yang sangat vital. Ketika Abu Bakar menjadi pemimpin politik, maka Umar bin Khatab ra, Ali ra dan sebagainya menjalankan peran ulama yang aktif menasehati dan mengontrol penguasa. Begitu juga ketika Umar ra menjadi penguasa, para sahabat lain menjalankan fungsi kontrol dengan sangat efektif. Sebagai pewaris Nabi, para ulama bertanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan fungsi ini.
Said Hawwa, ulama asal Syiria, menjelaskan bahwa peran para Nabi ada tiga: Tadzkirah, Ta’lim dan Tazkiyah. Tadzkirah artinya memberi peringatan. Dalam bahasa Al-Qur’an tadzkirah dicerminkan dalam bentuk memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar (Qs. Ali Imran: 110). Medan tadzkirah sangat luas, termasuk dalam bidang ekonomi. Jika ada suatu kebijakan ekonomi yang keluar dari aturan Islam atau menyusahkan umat, para ulama harus segera angkat bicara. Di ambang terjadinya krisis ekonomi, para ulama seharusnya segera menyampaikan catatan-catatan kritisnya.
Ta’lim artinya mengajar. Di dalamnya terkandung makna mendidik dan mengembangkan potensi umat. Apa yang diajarkan Nabi? Al-Qur’an menjawab bahwa tugas Nabi adalah mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits (Qs. Ali Imran: 164). Keduanya adalah seperangkat pedoman yang diberikan Allah Swt dan Rasulullah Saw untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Orang yang terdidik dengan al-Quran dan Hadits akan tampil sebagai penyelamat umat dari krisis. Mari kita tengok teladan Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang menyelamatkan ekonomi umat Islam dengan sedekahnya. Keduanya mampu membalikkan ekonomi di Madinah yang sebelumnya ada di bawah penguasaan kaum Yahudi ke tangan umat Islam.
Hingga saat ini, proses ta’lim yang dilakukan oleh para ulama masih tersebar di wilayah pinggiran, di pesantren-pesantren yang jauh dari pusat kekuasaan negara. Upaya pendidikan di pusat-pusat kota dirasa masih kurang maksimal. Masih kalah oleh hingar bingar tempat-tempat hiburan seperti bioskop, mall dan diskotik. Akibatnya, dakwah belum menyentuh para konglomerat. Tak ada kader potensial umat yang rela mengorbankan harta dan asetnya untuk menyelamatkan umat dari krisis. Hal ini menunjukkan lemahnya posisi dan peran ta’lim dari para ulama di hadapan umat Islam sendiri.
Sedangkan Tazkiyah artinya menyucikan atau membersihkan. Imam Al-Ghazali memaknainya sebagai Tazkiyah al-Anfus atau menyucikan jiwa manusia dari sifat-sifat yang mengotorinya. Dalam Al-Quran dinyatakan bahwa orang-orang yang menyucikan jiwanya adalah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya orang yang rugi adalah yang membiarkan jiwanya kotor (Qs. Al-Syams: 9-10). Kotoran-kotoran jiwa itu adalah sifat-sifat yang merusak fitrah manusia, seperti cinta dunia, menumpuk harta, iri, dengki, sombong, kikir dan lain-lain. Masih banyak umat Islam yang berlebih secara ekonomi, namun tidak peduli terhadap saudaranya yang miskin. Potensi zakat, infak dan shodaqoh yang sangat besar masih jauh dari tujuan ia disyari’atkan. Menurut Dr. Surahman Hidayat dan Yesi Mariska Indira, peneliti dari PIRAC, sampai saat ini potensi zakat yang termanfaatkan dari umat Islam Indonesia sebesar Rp. 900 milyar. Padahal potensi zakat umat Islam mencapai Rp. 20 triliun. Nilai yang cukup fantastis untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Potensi yang dahsyat ini lagi-lagi tersia-sia akibat umat Islam belum mampu menyucikan dirinya dari sifat-sifat kotor seperti kikir dan cinta dunia.
Dalam kasus BPJS yang sangat dibutuhkan kehadirannya oleh rakyat miskin, peran ulama malah kontraproduktif. Fatwa bahwa BPJS belum sesuai syari’at mengisyaratkan ada unsur haram yang terkandung di dalamnya. Namun, fatwa ini seolah tak bertaji mengingat para ulama tidak memberikan alternatif solusi. Jika BPJS haram, lalu ke mana umat menggantungkan harapannya untuk mendapatkan jaminan sosial?
Teladan KH. Ahmad Dahlan
Dalam buku Teologi Pembaharuan, Fauzan Soleh menyampaikan riwayat yang masyhur tentang KH. Ahmad Dahlan. Diceritakan bahwa KH. Ahmad Dahlan selalu saja mengulang-ulang pelajaran surat al-Ma’un dalam jangka waktu yang lama. Bahkan hingga tidak pernah beranjak kepada ayat berikutnya, meskipun murid-muridnya sudah mulai bosan.
Karena jenuh, salah seorang muridnya, KH. Syuja’ -yang masih muda waktu itu-, bertanya mengapa tidak beranjak ke pelajaran berikutnya. Dahlan pun balik bertanya, “Apakah kamu benar-benar memahami surat ini?”. KH. Syuja’ menjawab bahwa ia dan kawan-kawannya sudah memahami benar-benar arti surat tersebut dan bahkan telah menghafalnya di luar kepala.
Kemudian Dahlan bertanya kembali, “Apakah kamu sudah mengamalkannya?”. Dijawab oleh KH. Syuja’, “Bukankah kami membaca surat ini berulang kali sewaktu salat?”
KH. Ahmad Dahlan lalu menjelaskan maksud mengamalkan surat al-Ma’un bukanlah sekedar menghafal atau membacanya semata, namun lebih dari itu semua. Yaitu mempraktekkan al-Ma’un dalam bentuk amalan nyata. “Oleh karena itu setiap orang harus keliling kota mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang ke rumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makan dan minum, serta berikan mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan kepada kalian.”
Inilah teladan ulama sesungguhnya. Proses tadzkirah, ta’lim dan tazkiyah tak hanya dilakukan di tataran konsep, tapi langsung menyentuh realitas. Mari kita tunggu hasil Munas MUI tahun ini. Semoga lahir konsep tadzkirah, ta’lim dan tazkiyah yang langsung menyentuh realitas umat, khususnya dalam menghadapi krisis yang semakin menggila. Wallahu a’lam.

dimuat di Republika 28 Agustus 2015

link: http://epaper.republika.co.id//main/index/2015-08-28

Satukan Hati Kaum Muslimin

Zaman sekarang memang zaman yang aneh, ada orang yang mengaku aktivis dakwah, teriak-teriak tentang Khilafah, pendirian negara yang berdasarkan syariat Allah, negara yang menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, rindu dengan penerapan Islam secara kaaffah tapi subuh dia nggak hadir di Masjid, jarang puasa senin-kamis, tahajjudnya setahun bisa dihitung jari, dan baca Al-Qur’an juga malas, semua hal dikiritik olehnya, sampai-sampai seolah tidak ada kebaikan pada orang lain bila tidak berdakwah tentang Khilafah.

Sama anehnya dengan orang-orang yang mengaku ikut kajian sunnah, senantiasa menganggap bahwa dirinyalah yang bertauhid, tapi tauhid ini tidak menyelamatkan saudaranya dari kekasaran lidahnya, dan bahkan tak memahami sunnah yang paling mudah yaitu menyenangkan saudaranya, mencintai saudaranya karena Allah, atau dia menganggap bahwa saudaranya hanya yang cingkrang celananya dan subur janggutnya, kalangannya saja.

Aneh juga seperti orang-orang yang merasa bahwa dirinya mengikuti tarbiyah dan metode rabbaniyyah Rasulullah, namun menganggap bahwa kerja itu hanya dengan politik dan parlemen, selain itu berarti tidak berdakwah dan tidak berjuang, berarti hanya penonton yang selalu dianggap salah dan tidak ada betulnya.

Lebih anehnya lagi, ternyata semua sifat-sifat diatas itu ternyata ada pada diriku, itu aku.

Tapi zaman sekarang, ada juga orang-orang yang benar-benar sempurna tarbiyahnya, lembut tuturnya dan santun lisannya, (kasih) sayangnya pada manusia tak dapat disembunyikan walau dengan cara apapun. Merangkul saudaranya satu demi satu, mempergauli mereka dengan ihsan, menjamu mereka layaknya tamu agung, rabbaniyyah sama semisal ajaran Rasulullah.

Di zaman ini juga kami temukan mujahid-mujahid yang cinta sunnah, rapat janggutnya serapat dalil yang kuat yang dia pelajari dengan serius, dia bersabar dalam memperbaiki diri juga memperbaiki orang lain, saat berjumpa dengan Muslim yang lain ia memberikan tatapannya yang paling teduh dan senyum yang paling manis, walau ilmunya jauh lebih tinggi, tapi ia selalu bisa menemukan cara untuk belajar pada saudaranya sesama Muslim, akhlaknya itu sunnah, tauhidnya ada pada akhlaknya.

Juga di zaman ini, pejuang Khilafah dan Syariah yang sangat mencintai sesamanya, dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mencintai para ulama sebagaimana dia mencintai saudara-saudaranya, dia cinta pada sejarah Islam sebagaimana cinta pada bahasa Al-Qur’an, dia bukan hanya meramaikan Masjid, namun dialah yang memakmurkannya, siang harinya laksana singa dan malamnya seperti rahib, tak keluar dari lisannya kecuali ayat dan hadits, tak didengarnya kecuali kebaikan demi kebaikan.

Dan aku ingin sekali seperti mereka.

Kadangkala, kesedihan meliputiku saat aku mengetahui kebodohan diriku dan angkuhnya sikapku padahal aku kurang ilmu, disitu aku merasa kebangkitan Islam takkan Allah berikan padaku.

Tapi, saat aku melihat wajah-wajah yang bercahaya dengan ilmu, dan agung akhlaknya itu, aku tahu bisa jadi Allah memperhitungkan mereka untuk memberikan kebangkitan Islam, dan aku berharap aku dapat sedikit saja memiliki kemuliaan mereka, dengan mencintai mereka.

Ya Allah, satukanlah hati kaum Muslim..

*dari facebook Felix Siauw, Kamis (14/5/2015), judul dari redaksi.

Keutamaan Wanita dalam Islam

image

Keutamaan Wanita..

1. Benda yang Mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.

2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa kesabarannya saat hamil berpahala besar, dan tahukah jika ia meninggal dunia karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung- jawabkan: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan laki-lakinya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh : suaminya, ayahnya, anak lelakinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggung-jawabnya kepada ALLAH, maka ia akan menerima pahala yg luar biasa.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita.

tulisan diambil dari instagram @teladan.rasul
poto diambil dari instagram @taushiyahku

Sejarah Pacaran

Dulu, dalam tradisi Melayu..

Ketika seorang Pemuda jatuh hati pada seorang Gadis, pada Bulan Purnama ia pergi kerumah Gadis itu, tapi ngk masuk, melainkan ia pergi ke bawah jendela kamar si Gadis.

Di bawah jendela itu, Pemuda itu memainkan serulingnya dengan Merdu, juga bersya’ir dg kata-kata nan Indah, dg kencang agar orang tua si gadis juga mendengar

Alhasil, Pemuda tersebut dipanggil Ayah si Gadis, lalu ia ditanya keseriusan nya, jauhi atau menikah.
Bila benar serius maka, Pemuda dan Gadis ini di pisahkan selama 40 hari, sembari di olesi daun “Pacar” pada tangannya.

Nah, dalam 40 hari itu..
Pemuda, mempersiapkan biaya pernikahan, rumah, dan segala kebutuhan untuk berumah tangga
Gadis, di beri pendidikan bagaimana berumah tangga oleh ibunya, bagaimana masak, merawat rumah, merawat suami, dan anak.

Ketika tanda daun Pacar nya sudah hilang selama 40 hari keduanya pun di nikahkan.

(sumber: dari instagram @tausyiahku)

Kunci Kemenangan Islam

154600_125376147523339_100001528627482_161346_6328095_n

Saat itu kemenangan telah di depan mata kaum muslimin. Pasukan Quraisy kocar kacir di medan Uhud yang berbukit. Meski jumlah pasukan Rasulullah saw kalah telak, namun berkat pertolongan Allah dan kehebatan iman mereka mampu memukul mundur pasukan musuh.
Musuh telah putus asa. Rasa-rasanya tak mungkin mereka dapat mengalahkan kaum muslimin. Sekuat apa pun pasukan Mekkah itu melawan tak dapat mengalahkan pasukan Muhammad saw. Kunci kemenangan kaum muslimin saat itu adalah para pemanah yang ditempatkan Rasulullah saw di bukit. Lima puluh pemanah itulah yang akan dengan mudah memecah kekuatan musuh yang dilengkapi pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid.
Para pemanah itulah kunci kemenangan. Di awal peperangan Rasulullah saw telah berpesan kepada mereka untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam situasi apa pun. Beliau berpesan, “Jauhkanlah pasukan berkuda Quraisy dari kami dengan panah kalian. Jangan sampai mereka datang dari belakang. Lindungilah pasukan kita. Meski posisi kami terdesak dan terbunuh, jangan pernh kalian tinggalkan pos kalian. Dan meski kami menang, kalian tetap pos kalian dan jangan mengikuti kami mengumpulkan ghanimah”.
Dari kira-kira tujuh ratus pasukan kaum muslimin. Lima puluh pemanah itulah kunci dan penentu kemenangan. Jumlah yang sedikit tapi menentukan.
Yang terjadi selanjutnya telah sama-sama kita ketahui. Di saat kaum muslimin hampir meraih kemenangan, di saat musuh dihinggapi rasa takut dan putus asa, tragedi itu terjadi. Cinta dunia telah memenuhi hati para pemanah. Mereka melupakan wasiat Rasul. Semua pemanah itu meninggalkan pos mereka. Menuju harta yang ditinggalkan musuh di medan perang. Hanya lima orang yang tetap bertahan. Lima orang yang tetap ingat akan janji mereka kepada Rasulullah saw.
Apalah artinya lima orang menghadapi pasukan berkuda Khalid bin Walid yang gagah berani. Kelimanya terbunuh di sana. Dengan tetap memegang janji mereka kepada Rasulullah saw.
Pasukan berkuda itu terus melaju. Membuat pasukan kaum muslimin porak poranda. Hingga banyak yang terbunuh, di antaranya Hamzah paman Rasulullah saw dan Mush’ab bin Umair. Lainnya melarikan diri. Menyisakan Thalhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi Waqqash saja yang menemani Rasulullah saw. Akibatnya Rasulullah luka berat dan hampir terbunuh. Bahkan tersebar isu Rasulullah telah gugur di medan Uhud.
Kemenangan itu telah nyata di depan mata. Namun, tiba-tiba sirna. Penyebabnya ada dua: hati yang menginginkan dunia dan ketidakpatuhan pada perintah Rasulullah saw.
Berkenaan dengan hal ini, Allah swt berfirman
Dan Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu harta dunia yang kamu sukai. (Qs. Ali Imran: 152)
Saudaraku, dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa kemenangan itu hanya milik orang-orang yang pantas mendapatkannya. Orang-orang yang hatinya ikhlas. Orang-orang yang menjadikan hidup dan seluruh upayanya dalam hidup semata-mata untuk mencari keridhoan Allah swt. Orang-orang yang melepaskan hatinya dari dunia, meski dunia dan seisinya ada di genggaman tangannya.
Namun, ikhlas tidaklah cukup. Ia harus diikuti dengan kepatuhan terhadap sunnah Rasulullah saw. Sebab ketaatan kepada sunnah adalah cara ibadah yang diridhai Allah. Tiada ikhlas tanpa kepatuhan. Itulah mengapa syahadat memiliki dua bentuk persaksian: persaksian bahwa tiada Ilah/sesembahan selain Allah, dan persaksian bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah. Maknanya Ikhlas itu harus melalui cara yang diajarkan Rasulullah saw. Maknanya pula, jika ikhlas adalah ruh ibadah, maka kepatuhan kepada sunnah adalah jasadnya. Ikhlas tanpa kepatuhan ibarat ruh tanpa jasad.
Saudaraku, kisah di atas mengajarkan pula bahwa kemenangan menjauh dari Rasulullah saw akibat kecintaan kepada dunia dan jauhnya segelintir sahabat dari kepatuhan kepada Rasulullah. Dan sungguh, dua hal itu pula yang kini kita rasakan begitu dekat dengan jiwa kita.
Kecintaan pada dunia itu begitu rapat dalam hati kita. Terkadang ia pula yang sesungguhnya menjadi dorongan dalam amal-amal kita. Dunia itu bisa berupa harta, tahta, kehormatan, pengakuan sesama dan lain-lain. Seringkali ada agenda tersembunyi yang mendorong amal-amal kita, pun dalam urusan ibadah atau dakwah. Hal ini tentu bukannya mendekatkan kepada kemenangan dakwah dan ibadah, namun menjauhkannya.
Di sisi lain, ketidakpatuhan terhadap sunnah Rasulullah saw terasa lumrah dalam hidup. Pada aspek aqidah, ibadah ataupun mu’amalah kita. Seringkali kepatuhan pada sunnah menyempit maknanya hanya dalam ibadah. Urusan Mu’amalah dianggap tak perlu mengikuti sunnah. Betapa sulitnya kita keluar dari riba dalam mu’amalah kita, padahal ia menyalahi sunnah. Betapa sulit kita menghindari kebiasaan mengikuti perayaan-perayaan Yahudi dan Nasrani semisal ulang tahun, valentin dan perayaan lainnya sedang ia jelas-jelas mengkhianati sunnah. Betapa sulit kita memelihara kebersihan padahal ia adalah sunnah. Betapa sulit kita menghindari kebiasaan merusak esehatan, padahal ia adalah sunnah.
Pantas saja jika Rasulullah menyatakan, akan datang suatu zaman di mana berpegang kepada sunnah ibarat memegang bara. Digenggam terasa panas menyiksa, dilepas tertimpa bencana akhirat.
Saudaraku, kemenangan adalah janji dari Allah untuk kaum muslimin di tempat dan masa yang mana saja. Kemenangan bukan hanya janji untuk Rasulullah beserta para sahabat saja. Janji itu berlaku di sepanjang zaman. Jika kemenangan itu mampu diraih Rasulullah saw beserta sahabat. Bukankah seharusnya siapa pun dapat meraihnya pula? Bukankah syahadat kita sama dengan syahadat Rasulullah dan para sahabat? Bukankah Islam yang ada kini adalah Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah juga? Bukankah Al-Quran yang dipedomani Rasulullah saw adalah Al-Quran yang sama yang kita baca kini? Bukankah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah adalah sunnah yang juga kita pelajari saat ini?
Jika selepas Uhud Rasulullah saw mampu meraih kemenangan gemilang dalam waktu tak lama, maka di manakah kita dari kemenangan yang dijanjikan Allah itu? Sudah berabad-abad lamanya kemenangan itu jauh dari genggaman umat Islam. Dan kuncinya tetap sama: Ikhlas serta patuh terhadap sunnah.
Wallahu A’lam