Karena Bu Risma

bismillah
lagi booming berita di sosmed atau di tivi tentang bu risma. mayoritas menilik dari sisi politik dan perjuangannya mengurus kota surabaya. menurut saya, sisi paling penting dari kisah ini ada di tulisan ini.
mari kita selamatkan generasi muda Indonesia, setidaknya, dengan menambah pengetahuan tentang tantangan yang sudah menggila ini.
tulisannya cukup panjang, yang sabar bacanya yah..!!

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

Lihat pos aslinya 4.589 kata lagi

Lelaki Matahari

Bismillaah.

Ini salah satu cerita favorit saya. Sumbernya dari mana, saya lupa lagi. Anyway, selamat membaca, jangan lupa komen (ngarep.. )

CAM01053

Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan. Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pria berkata ingin menjadi matahari.

Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu-kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga.

Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari.  Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari.

Wanita berkata ingin menjadi Phoenix yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari.

Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah 3x namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari tanpa mau ikut berubah bersama wanita.

Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari. Pria merenung sendiri dan menatap matahari.

Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga. Ini disebut kasih yaitu memberi tanpa pamrih.

Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi. Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat kepada matahari. Matahari rela memberikan cahaya nya untuk bulan walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaan nya sebagai pemberi cahaya agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut. Ini disebut dengan Pengorbanan, menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.

Saat wanita jadi Phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit bahkan di atas matahari, pria tetap selalu jadi matahari agar Phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau dan matahari tidak akan mencegahnya.

Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix. Matahari selalu ada untuk Phoenix kapan pun ia mau kembali walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain selain Phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cinta nya. Ini disebut dengan Kesetiaan, walaupun ditinggal pergi dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan. Pria tidak pernah menyesal menjadi matahari bagi wanita.

saya menitip istri, bukan sapi

bismillah

Anda pernah mendengar kisah sapi betina? Saya yakin tak hanya pernah, tapi hafal. Kisah sapi yang menjadi latar belakang penamaan surat kedua setelah al-Fatihah itu adalah kisah yang amat termasyhur. Kisah sapi langka yang harus dicari Bani Israil akibat mereka terlalu banyak bertanya atas perintah Allah yang sudah teramat jelas: “sembelihlah seekor sapi betina!!”. Keengganan melaksanakan perintah itu mendorong mereka terus bertanya, sehingga semakin spesifik ciri2 sang sapi, semakin sulitlah dia dicari.

sapi

Siapakah pemilik sapi betina itu? Itulah yang ingin saya ceritakan di sini.

Alkisah, sapi itu milik seorang lelaki yang memiliki seorang istri dan anak yang masih bayi. Sang lelaki adalah seorang shalih yang hanya ingin memberi nafkah keluarganya dengan barang yang sudah jelas halal. Segenap tenaga ia kerahkan untuk menghindari barang haram yang mungkin dimakan istri dan anaknya.

Suatu hari sang lelaki sakit keras. Ia merasa Allah akan segera memanggilnya kembali ke hadiratNya. Tak ada peninggalan yang bisa ia berikan kepada istri dan anaknya, kecuali seekor anak sapi betina yg masih sangat muda.

Maka ia berikhtiar mencari orang yang amanah yang bisa ia titipi sang anak sapi, namun tak ia dapati. Sungguh di zaman itu mencari orang yang bisa membedakan halal haram teramat sulit. Yang ia inginkan, peninggalannya terpelihara tanpa tercampuri barang haram, walaupun ia hanya seekor sapi. Akhirnya ia hadapkan wajahnya ke langit seraya berdoa,

“ya Allah, kutitipkan sapi ini kepadaMu sampai anakku besar nanti. Kembalikanlah sapi ini kepadanya saat tiba waktunya nanti”

Saat ia kembali ke rumahnya ia ceritakan hal itu kepada sang istri. ia bertanya, “di mana kau tinggalkan sapi itu?”

“di tengah padang rumput” jawabnya.

Tak lama kemudian ruh sang lelaki meninggalkan jasadnya.

Singkat cerita, saat sang anak dewasa ibunya menceritakan perihal sapi warisan ayahnya. Segera ia ke padang rumput. Tak lupa ia berdoa,

“ya Allah, Rabb Ibrahim dan Ya’qub, aku bertawakkal kepadaMu, kembalikanlah kepadaku titipan ayahku.”

Ajaib, sapi itu ada di sana!!

Inilah dia, sapi yang dicari kaum Nabi Musa. Yang umurnya tak terlalu tua, tak terlalu muda. Yang berwarna kuning mencolok mata. Yang tak pernah dipakai kerja di ladang dan pesawahan.

Inilah dia, sapi yang Allah pelihara secara langsung. Yang dibeli kaum nabi Musa dengan emas seberat kulitnya. Yang setelah disembelih, bagian tubuhnya membangkitkan orang yang sudah tak bernyawa: dengan perintah Allah tentunya.

Hikmah cerita ini, kata Imam Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya, keshalihan orang tua akan menjadi pemelihara dan pengundang berkah bagi turunannya.

Lalu apa hubungannya dengan istri saya?

Saat hendak meninggalkan istri yang baru 10 hari saya nikahi, saya teringat kisah ini. Maka segera saya bersujud seraya berdoa,

“Ya Allah Yang Maha Memelihara, kepadaMu, saya menitip istri saya..!!”

(NB: ka bapa ibu (mertua) n mamah bapa, hapunten ngarepotkeun wae..!!)

status baru: oleh2 dari surga

Bismillah

“Perkokohlah bahteramu karena samudra ini amat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan ini amat panjang. Ikhlaskanlah amalmu karena pencatatmu sungguh amat jeli.” (nasihat Rasulullah kepada Abu Dzar)

oleh2 dari surga

Sudah satu bulan lebih gak pulang ke rumah saya ini. Bukan maksud hati untuk seterusnya melupakan. Untuk sementara saja, saya memang mesti fokus pada hal lain. Ya, sebagai seorang insan yang lemah saya kurang mampu untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Alhamdulillah, hari ini bisa sekadar menengok dan menyapa kembali. Di tengah puncak kesibukan, saya memutuskan kembali menempuh jalan sunyi ini meski cuma sebentar. Agar bisa sekadar refreshing dan melihat masalah yang saya hadapi dari luar. Mudah-mudahan saja ada pencerahan.

Ke mana saja sebulan ini?

Seperti telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya sedang melangkah untuk membangun rumah di alam nyata. Momen itu terjadi di tanggal 23 juli kemaren. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, hal ini tak lepas dari doa kawan-kawan semuanya.

Ternyata, menjalani hidup dengan status baru itu menyenangkan ya!!! Hehe, iya lah masa penantian yang begitu lama akhirnya datang juga, semuanya terasa indah. Terus terang sampai sekarang saya masih merasa bermimpi. Apalagi sekarang sedang jauh dari istri, mimpi itu datang hampir tiap saat, hehe.

Masih ingat banget di tanggal 23 itu. Saat nasihat di khutbah nikah ditujukan kepada kami, calon suami istri. Nasihat yang disampaikan bapak saya sendiri. Nasihat yang hanya dipahami kami bertiga: saya, calon istri dan bapak, karena disampaikan dalam bahasa Arab. Yang, walaupun di akhir khutbah diterjemahkan, ada bagian2 tertentu yang tak beliau sampaikan. Sebab isinya khusus buat saya, anak lelakinya. Namun, agar anda tak penasaran, poin pentingnya adalah nasihat Rasulullah kepada Abu Dzar di atas.

Dan kini, penantian itu memang harus terjadi lagi. Setelah sepuluh hari menikah, terpaksa saya harus meninggalkan istri dan semua kehangatan suasana pengantin baru. Saya harus kembali melanjutkan tugas saya yang belum rampung di Gontor, masih satu setengah bulan lagi. Dan saya tak mungkin membawa istri saya ke sana. Maklum di Gontor tinggal di asrama yang pengisinya laki-laki semua. Apa jadinya kalau saya membawa istri saya? Saya sih enak, tapi kasihan kawan-kawan saya, hehe.

Walau begitu ada hikmah yang saya dapatkan. Nanti kalau pulang ke istri, saya akan berbulan madu kembali.

wassalam

bahasa perdamaian dan persaudaraan

bismillah

setelah hampir seminggu koneksi internet ngaco, alhamdulillah bisa kembali lagi ke sini. jalan sunyi yang kudus, begitu sahabat saya menyebut jalan yang saya tempuh ini. sahabat, engkau memang paling bisa membuat istilah-istilah baru, hingga dunia kita tak lagi bisu.

ngomong-ngomong tentang peristilahan, saya teringat ketika jaman SD dulu pernah menemukan pertanyaan seperti ini:

“siapakah penemu benua amerika?”

dulu kita pasti menjawab Christoper Columbus, sebab itulah yang diajarkan guru-guru kita saat itu. sambil iseng-iseng ke sana ke mari, saya menemukan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa jauh sebelum Colombus menginjak benua Amerika, seorang muslim telah lebih dulu sampai di sana. dialah Laksamana Cheng Ho, seorang muslim China yang beberapa bulan kemarin filmnya ditayangkan di salah satu tivi swasta kita. lengkapnya, artikel itu bisa anda buka di sini.

sebetulnya saya cuma penasaran, kenapa harus ada istilah penemu benua? bukankah benua amerika sejak dulu telah ada?

Baca lebih lanjut

menemukan jodoh

Bismillah

Mungkinkah menemukan suami atau istri tanpa pacaran terlebih dahulu?”

Seorang murid saya mengajukan pertanyaan ini tadi siang. Dia seorang gadis yang sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Bandung, jurusan pendidikan bahasa Inggris. Hm, dia salah satu murid paling cerdas yang pernah saya miliki. Saat Tsanawiyah dulu, hanya dia yang mencapai nilai sempurna dalam pelajaran saya, begitu juga di pelajaran lainnya. Seingat saya, sampai saat ini, belum ada murid lain yang memecahkan rekornya. Dan kini dia sudah dewasa, mulai merasakan gejolak hati orang-orang dewasa. Kebingungan dan kebimbangan dalam menjawab tantangan-tantangan hidup. Apalagi ketika tantangan itu, bergesekan atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Itulah dia, murid yang sampai saat ini masih saya banggakan.

Baca lebih lanjut

sekadar curhat tadi malam

Bismillah..

Hidup. Apa yang saya rasakan dalam hidup ini begitu tak terduga. Cara Allah mengantarkan saya ke tempat ini tak pernah saya sangka sebelumnya. Sejak bulan Februari kabar tentang kegiatan di Gontor ini telah saya dengar. Yang saya dengar waktu itu, program ini adalah S2-nya Gontor, ternyata bukan.

Di akhir Februari, saat berbicara dengan seorang rekan, terus terang saya merasa tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Namun, karena rencana menikah yang telah terjadwal di bulan Juli, saya tak melanjutkan rasa tertarik itu menjadi niat, apalagi tekad. Rasa tertarik itu akhirnya pupus seiring waktu.

Baru, pada akhir Maret, ketika saya mengikuti sebuah kegiatan di Ciputri Lembang, jalan itu terbuka. Di malam terakhir kegiatan itu, saya mendapat panggilan dari ust Tresna. Beliau ini adalah calon paman saya. Dia paman dari calon istri saya. Panggilan yang mendadak itu berbuntut kepada pengambilan keputusan yang harus mendadak pula. Saya diminta untuk memberikan keputusan saat itu pula, siap atau tidak. Jika siap, akan ditindaklanjuti dengan menghubungi panitia di Gontor, kata kang Tiar. Kang Tiar ini adalah panitia kegiatan yang juga aktif di INSIST dan cukup dekat dengan Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, direktur kegiatan di Gontor . Saat itu ust Tresna mendorong saya untuk ikut, sebab materi yang disampaikan di sana sangat berbobot dan berharga buat pengembangan ilmu di kampung halaman nanti. Buat saya pribadi, ataupun buat masyarakat, begitu kata beliau. Ada pun masalah jadwal nikah, kata beliau, “biar saya yang akan berbicara dengan KD”. KD yang dimaksud bukan Krisdayanti, tapi bapaknya calon istri saya. Mendapat angin segar seperti itu, hasrat ketertarikan yang dulu pernah ada, terbit kembali. Walaupun belum yakin seratus persen, saya sanggupi tawaran itu.

Baca lebih lanjut