Tugas Ulama di Masa Krisis

Peran para ulama di Indonesia saat ini masih belum memberikan solusi berarti bagi permasalahan bangsa. Hal ini diakui oleh KH. Makruf Amin di sela-sela perhelatan Munas MUI ke-9 di Surabaya baru-baru ini. Menurutnya, MUI sebagai representasi para ulama baru memiliki kemampuan untuk menghimbau. Tak kurang tak lebih. Bahkan dalam sambutannya, Presiden Jokowi lebih menyempitkan peran MUI itu hanya sebagai motivator saja. Presiden mengungkapkan harapannya agar MUI memandu dan membangkitkan optimisme umat di tengah melemahnya kondisi ekonomi tanah air. Pernyataan presiden tersebut, tidak mustahil, malah menjadi pembenaran tesis kaum Marxis bahwa agama adalah candu masyarakat. Agama difungsikan sebagai pengalihan dan pelarian dari permasalahan hidup. Hal ini tentu saja sangat menyimpang mengingat peran yang seharusnya dimainkan oleh para ulama. Tulisan ini akan menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh para ulama di tengah gelombang krisis.
Pewaris Nabi
Dalam ajaran Islam, ulama menempati posisi sentral. Kata Rasulullah Saw: “Ulama adalah pewaris para nabi. Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak juga dirham, melainkan mereka hanya mewariskan ilmu”. Rasulullah juga memposisikan para ulama laksana bintang yang menjadi tempat umat mendapat bimbingan dan petunjuk. Maka dalam sejarah Islam ulama memegang peran yang sangat vital. Ketika Abu Bakar menjadi pemimpin politik, maka Umar bin Khatab ra, Ali ra dan sebagainya menjalankan peran ulama yang aktif menasehati dan mengontrol penguasa. Begitu juga ketika Umar ra menjadi penguasa, para sahabat lain menjalankan fungsi kontrol dengan sangat efektif. Sebagai pewaris Nabi, para ulama bertanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan fungsi ini.
Said Hawwa, ulama asal Syiria, menjelaskan bahwa peran para Nabi ada tiga: Tadzkirah, Ta’lim dan Tazkiyah. Tadzkirah artinya memberi peringatan. Dalam bahasa Al-Qur’an tadzkirah dicerminkan dalam bentuk memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar (Qs. Ali Imran: 110). Medan tadzkirah sangat luas, termasuk dalam bidang ekonomi. Jika ada suatu kebijakan ekonomi yang keluar dari aturan Islam atau menyusahkan umat, para ulama harus segera angkat bicara. Di ambang terjadinya krisis ekonomi, para ulama seharusnya segera menyampaikan catatan-catatan kritisnya.
Ta’lim artinya mengajar. Di dalamnya terkandung makna mendidik dan mengembangkan potensi umat. Apa yang diajarkan Nabi? Al-Qur’an menjawab bahwa tugas Nabi adalah mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits (Qs. Ali Imran: 164). Keduanya adalah seperangkat pedoman yang diberikan Allah Swt dan Rasulullah Saw untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Orang yang terdidik dengan al-Quran dan Hadits akan tampil sebagai penyelamat umat dari krisis. Mari kita tengok teladan Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang menyelamatkan ekonomi umat Islam dengan sedekahnya. Keduanya mampu membalikkan ekonomi di Madinah yang sebelumnya ada di bawah penguasaan kaum Yahudi ke tangan umat Islam.
Hingga saat ini, proses ta’lim yang dilakukan oleh para ulama masih tersebar di wilayah pinggiran, di pesantren-pesantren yang jauh dari pusat kekuasaan negara. Upaya pendidikan di pusat-pusat kota dirasa masih kurang maksimal. Masih kalah oleh hingar bingar tempat-tempat hiburan seperti bioskop, mall dan diskotik. Akibatnya, dakwah belum menyentuh para konglomerat. Tak ada kader potensial umat yang rela mengorbankan harta dan asetnya untuk menyelamatkan umat dari krisis. Hal ini menunjukkan lemahnya posisi dan peran ta’lim dari para ulama di hadapan umat Islam sendiri.
Sedangkan Tazkiyah artinya menyucikan atau membersihkan. Imam Al-Ghazali memaknainya sebagai Tazkiyah al-Anfus atau menyucikan jiwa manusia dari sifat-sifat yang mengotorinya. Dalam Al-Quran dinyatakan bahwa orang-orang yang menyucikan jiwanya adalah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya orang yang rugi adalah yang membiarkan jiwanya kotor (Qs. Al-Syams: 9-10). Kotoran-kotoran jiwa itu adalah sifat-sifat yang merusak fitrah manusia, seperti cinta dunia, menumpuk harta, iri, dengki, sombong, kikir dan lain-lain. Masih banyak umat Islam yang berlebih secara ekonomi, namun tidak peduli terhadap saudaranya yang miskin. Potensi zakat, infak dan shodaqoh yang sangat besar masih jauh dari tujuan ia disyari’atkan. Menurut Dr. Surahman Hidayat dan Yesi Mariska Indira, peneliti dari PIRAC, sampai saat ini potensi zakat yang termanfaatkan dari umat Islam Indonesia sebesar Rp. 900 milyar. Padahal potensi zakat umat Islam mencapai Rp. 20 triliun. Nilai yang cukup fantastis untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Potensi yang dahsyat ini lagi-lagi tersia-sia akibat umat Islam belum mampu menyucikan dirinya dari sifat-sifat kotor seperti kikir dan cinta dunia.
Dalam kasus BPJS yang sangat dibutuhkan kehadirannya oleh rakyat miskin, peran ulama malah kontraproduktif. Fatwa bahwa BPJS belum sesuai syari’at mengisyaratkan ada unsur haram yang terkandung di dalamnya. Namun, fatwa ini seolah tak bertaji mengingat para ulama tidak memberikan alternatif solusi. Jika BPJS haram, lalu ke mana umat menggantungkan harapannya untuk mendapatkan jaminan sosial?
Teladan KH. Ahmad Dahlan
Dalam buku Teologi Pembaharuan, Fauzan Soleh menyampaikan riwayat yang masyhur tentang KH. Ahmad Dahlan. Diceritakan bahwa KH. Ahmad Dahlan selalu saja mengulang-ulang pelajaran surat al-Ma’un dalam jangka waktu yang lama. Bahkan hingga tidak pernah beranjak kepada ayat berikutnya, meskipun murid-muridnya sudah mulai bosan.
Karena jenuh, salah seorang muridnya, KH. Syuja’ -yang masih muda waktu itu-, bertanya mengapa tidak beranjak ke pelajaran berikutnya. Dahlan pun balik bertanya, “Apakah kamu benar-benar memahami surat ini?”. KH. Syuja’ menjawab bahwa ia dan kawan-kawannya sudah memahami benar-benar arti surat tersebut dan bahkan telah menghafalnya di luar kepala.
Kemudian Dahlan bertanya kembali, “Apakah kamu sudah mengamalkannya?”. Dijawab oleh KH. Syuja’, “Bukankah kami membaca surat ini berulang kali sewaktu salat?”
KH. Ahmad Dahlan lalu menjelaskan maksud mengamalkan surat al-Ma’un bukanlah sekedar menghafal atau membacanya semata, namun lebih dari itu semua. Yaitu mempraktekkan al-Ma’un dalam bentuk amalan nyata. “Oleh karena itu setiap orang harus keliling kota mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang ke rumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makan dan minum, serta berikan mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan kepada kalian.”
Inilah teladan ulama sesungguhnya. Proses tadzkirah, ta’lim dan tazkiyah tak hanya dilakukan di tataran konsep, tapi langsung menyentuh realitas. Mari kita tunggu hasil Munas MUI tahun ini. Semoga lahir konsep tadzkirah, ta’lim dan tazkiyah yang langsung menyentuh realitas umat, khususnya dalam menghadapi krisis yang semakin menggila. Wallahu a’lam.

dimuat di Republika 28 Agustus 2015

link: http://epaper.republika.co.id//main/index/2015-08-28

Keutamaan Wanita dalam Islam

image

Keutamaan Wanita..

1. Benda yang Mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.

2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa kesabarannya saat hamil berpahala besar, dan tahukah jika ia meninggal dunia karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung- jawabkan: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan laki-lakinya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh : suaminya, ayahnya, anak lelakinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggung-jawabnya kepada ALLAH, maka ia akan menerima pahala yg luar biasa.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita.

tulisan diambil dari instagram @teladan.rasul
poto diambil dari instagram @taushiyahku

Karena Bu Risma

bismillah
lagi booming berita di sosmed atau di tivi tentang bu risma. mayoritas menilik dari sisi politik dan perjuangannya mengurus kota surabaya. menurut saya, sisi paling penting dari kisah ini ada di tulisan ini.
mari kita selamatkan generasi muda Indonesia, setidaknya, dengan menambah pengetahuan tentang tantangan yang sudah menggila ini.
tulisannya cukup panjang, yang sabar bacanya yah..!!

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

Lihat pos aslinya 4.589 kata lagi

Valentine’s Day

Bismillah

ini postingan dari:

http://felixsiauw.com/home/vday-love-or-lust-sayang-atau-syahwat/

cukup panjang, jadi yang sabar aja bacanya. mudah-mudahan bermanfaat dan jadi jariyah ilmu bagi beliau, Aamiiin.

01. katanya virus #vday menyerang paling ganas pada remaja, karena itu kita perlu definisikan siapa itu remaja :)

02. remaja yang kena #vday bukan lagi anak-anak, belum nyampe dewasa, apalagi kolot! remaja sering disebut abege, anak baru gede!

03. apanya yang gede?! >> jangan piktor ah, yang jelas badannya tambah gede, tenaganya juga, porsi makannya pula, dan yang kentara nafsunya tambah gede!

04. karena nafsunya udah gede, makanya orang bilang masa remaja itu masa-masa paling indah, betul? >> apanya yang indah? >> cek…

05. mulai demen sama lawan jenis.. PDKT dah.. caranya >> pinjem bukuuu! (ini strategi dari tahun 70-an), atau belajar bersama (strategi baheula)

06. indahnya lagi masa remaja, jalan bareng-bareng.. kalo ada yang kecantol, yaa.. ajak nonton bareng >> pas nonton pingin? >> megang-megang..

07. pas ditanya kenapa megang-megang? alasannya “praktek anatomi” *glek >> ancur.. >> kebablasan akhirnya?! >> haliim! (ee.. salah, hamil) -_-; *sigh

08. gak kuat nanggung malu, diaborsi, digugurin, bayinya dibunuh, naudzubillah.. itulah kondisi remaja masa kini, hasil pergaulan bebas

09. banyak yang umbar nafsu atas nama cinta, dan itu bukan terjadi karena niat doang, tapi ceweknya juga kasi kesempatan >> waspadalah! WASPADALAH!

10. makanya kita juga kudu tau kumaha me-menej cinta, yuk kita bahas tentang cinta (cie.. cie.. kalo udah yang ini pada ngumpul dah) :D

11. banyak definisi dari para sarjana tentang cinta, yang paling terkenal adalah “love is cinta” >> gubrak! ya iyalah (judul film noh!) -_-;

12. ada yang bilang pula cinta itu perasaan mendalam yang nggak terukur (kayak sumur), ada juga yang bilang cinta itu buta (huruf, karena nggak pernah sekolah)

13. ada juga yang bilang “love at first sight” >> bahasa indonesianya >> jangan merokok sembarangan.. eh salah “cinta pertama” -_- >> nama lainnya cinta monyet

14. kenapa cinta monyet? >> karena monyet kalo pacaran udah putus urat malunya, rasa-rasa dunia milik bedua, yang lain figuran >> begitulah cinta monyet

15. mendefinisikan cinta sulit, tapi saya bisa kasitau efek kena cinta, misal selalu senyum-senyum sendiri (beda tipis sih sama orang depresi akut)

16. cinta juga buat orang yang paling pemberani jd kyk ayam matok cacing, ngangguk2 mulu didepan yg dicintai, gak berani ngelawan

17. cinta juga bisa buat orang yang paling pengecut pasang badan, bertaruh nyawa demi yang dicintainya, jadi herois

18. cinta membuat gunung tak ada yg terlalu tinggi tuk didaki, buat tak ada laut yg terlalu luas tuk diseberangi *suit2.. :)

19. yang paling jelas, cinta adalah kursus puisi gratis, karena yg jatuh cinta mendadak jadi puitis, Hamlet aja kalah sama puisinya, mantap! :D

20. makanya Michael Faraday bilang “cinta itu tak dapat diciptakan n dimusnahkan, hanya berubah bentuk” (riwayat nipu) >> eh itu listrik ya?

21. pokoknya jatuh cinta itu nikmat, lagu dangdut jadi enak didengar dan makanan apapun jadi lezat, hehe..

22. kalo lagi bokek, mau makan gratis, deketin aja orang yang lagi jatuh cinta, pasti ditraktir (kalo dia nggak sama bokek)

23. tapi jangan coba-coba minta traktir sama yang baru patah cinta, dilempar pake sendal jepit ada.. -_-; karena apapun jadi gak enak

24. orang putus cinta, makan tak enak (karena ngutang) tidur tak nyenyak (karena rumahnya bocor) hehe.. :D

25. ah, ngelantur dah, balik lagi.. Ok, jadi cinta itu adalah sesuatu yang fithrah, murni, suci. Allah pun memberitahu kita lewat firmannya:

26. “diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya; Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa sakinah (cederung) kepadanya..

27. ..dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah)” (QS 30:21) >> ini ayat sering ada di undangan nikah, pasti apal kan :)

28. “Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita..” (QS 3:14) >> ini juga firman Allah bahwa cinta itu fithrah

29. jadi hukum asalnya cinta memang fithrah, guna mewarnai dunia, merekatkan ukhuwah dan madu dalam keluarga 🙂 >> tapi banyak disalahartikan..

30. zaman skarang, cinta disamarkan dengan nafsu, dengan hubungan fisik, disempitkan maknanya oleh yang namanya pacaran.. zzz.. -_-;

31. apalagi nanti tgl 14 Februari, ramai remaja dan remaja-kolot disesatkan oleh virus #vday, menjerumuskan dan membunuh rasio atas nama cinta

32. Muslim atau bukan, semua tumpah ruah merayakan dengan macem-macem cara yang ujung-ujungnya pasti maksiat, sekali lagi, pasti maksiat -_-;

33. begitulah aslinya #vday yg berasal dari ritual kaum Romawi yang hobi banget memuja seks dan tubuh manusia, selalu mengukur kesenangan dengan fisik

34. asal mula #vday adalah Lupercalian Festival, untuk memuja dewa kesuburan Lupercus (dewa pan dalam mitologi Yunani) bos-nya para satyr

35. Lupercus digambarkan dewa kesuburan dengan badan manusia dan kepala serta kaki kambing (inget Baphomet?) itulah dia

36. saya tunjukin gambarnya biar horor ya? >> nih Dewa Lupercus yang dipuja oleh kaum Romawi di festival Lupercalia di 13 – 18 Februari

pan2

37. Pan ini juga suami Aphrodite (dewi kecantikan) yg punya anak namanya Eros (Cupid) >> itu anak-anak besayap yg terbang bawa panah cinta -_-;

38. menurut legenda, saking gantengnya Cupid ini, ibunya sendiri kena panah asmaranya dan menyetubuhi anaknya >> hiiiiiii~ itulah #vday!

39. makanya dalam prayaan Lupercalia, masyarakat berpesta sex utk mengambil semangat Lupercus (dewa Pan) dan Aphrodite, maksiat semaleman

40. perayaan Lupercalia ini adalah perayaan wajib Romawi, menjadikan pada hari itu bersenang-senang antara pria-wanita, memuaskan nafsu setan

41. sampe datang Kristen jadi agama Romawi, namun Kristen tak kuasa larang perayaan ini, maka di-’bungkus’-lah dengan nama lain, yaitu Valentine Days!

42. pada tahun 496 Paus Gelasius akhirnya meresmikan #vday jadi agenda tahunan gereja, melegalkannya jadi hari besar Kristen, acaranya? sama maksiat

43. pada 1969 gereja menyatakan #vday terlarang dirayakan karena dianggap Santo Valentine hanyalah tokoh buatan untuk legalisasi perayaan Lupercalia

44. karena gereja akhirnya sadar bahwa Valentine Day #vday tak lain adl hanya perayaan pesta seks yang dibalut atas nama Kristen, maksiat atas nama cinta

45. hal itu aja membuat kita cukup alasan utk tak ikut-ikutan, karena itu hari besar Romawi, juga pernah jadi hari raya agama Kristen, maksiat lagi tujuannya.. *sigh.. -_-

46. ada yang bilang, “ah, itu, kan dulu, sekarang kan murni hari kasih sayang!” >> oh ya?! >> coba simak fakta2 berikut

47. di Inggris & Amerika, setiap tahun angka nge-seks melonjak tinggi banget pada seminggu sebelum #vday dan seminggu setelahnya, orang pada nge-seks pas #vday

48. tanggal 14 Februari di Inggris dijadikan ‘The National Impotence Day’ >> dihimbau agar para remaja tidak nge-seks pada minggu-minggu itu >> tentu gagal

49. di US 14 Februari jadi ‘The National Condom Week’ jadi semua orang wajib pakai kondom untuk hindari kehamilan >> karena mereka tau #vday = seks

50. di Indonesia? >> dari 413 responden yang disurvei 26,4% diantaranya ngaku suka merayakan #vday sama gebetan atau kekasih dengan jalan-jalan, makan-,makan, ciuman lalu ngeseks

51. 54% remaja bandung pernah hubungan seks!. bahkan, persentasenya paling tinggi dibanding kota-kota besar lain seperti Jakarta (51%), Medan (52%) dan Surabaya (47%) (Kompas, 2006)

52. di beberapa daerah, tiap tahun baru dan #vday, seperti yang kita baca di koran atau liat di tipi, penjualan kondom meningkat 40 – 80%, beberapa daerah bahkan soldout!

53. siapa yang paling diuntungkan oleh #vday kalo begitu? >> tentu kapitalis! >> di US, #vday menghasilkan total penjualan retail Rp 144,4 trilliun pada 2011!

54. di Indonesia juga sama, liat aja di toko-toko >> pintar nian kapitalis menghancurkan remaja Muslim, sudah kantong bolong, iman pun bolong pula -_-;

55. #vday yang diklaim hari kasih sayang keliatan boroknya, angka perceraian malah meningkat, di Indonesia dari thn 2005 – 2010, pceraian naik 100%!

56. di negeri yang paling heboh #vday seperti US, perceraian justru terjadi 1 diantara 2 pernikahan (50%) >> masih alasan ini hari kasih sayang?

57. perlu ditanyakan sekarang, #vday: love or lust? sayang atau syahwat?

58. simak nasihat iIahi.. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…”

59. juga tausiyah kekasih kita “kamu akan ikuti sunnah2 orang2 sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.. >>

60. dan ketika mereka masuk ke lubang biawak pun kalian tetap mengikutinya!. Kami bertanya “apakah mereka orang Yahudi dan orang Nasrani?”.. >>

61. Rasul menjawab: “kalau bukan mereka (Yahudi dan Nasrani), siapa lagi?” (HR Bukhari) >> #vday adalah produk keduanya, Yahudi & Nasrani -_-;

62. jadi nggak ada manfaatnya kaum Muslim ikut-ikutan #vday, kalo nggak ikut-ikutan tradisi dan ritual kufur, minimal berdosa.. ngapain, lebih baik kita mencinta secara sejati :D

follow @felixsiauw on twitter for more

ayo bercocok tanam!

Bismillaahirrahmaanirrahiem

Pekerjaan menanam adalah perbuatan yang mulia, sebab berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan banyak orang. Salah satu bentuk kebaikan adalah ketika Allah memberikan peluang kebutuhan banyak orang ada pada tangan seseorang. Rasulullah saw bersabda,

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah menjadikannya pemberi kebutuhan banyak manusia”. (Hr. Al-Bayhaqi)

Seharusnya kita jeli melihat peluang kebaikan. Allah telah menciptakan tanah Indonesia sangat subur, bahkan memungkinkan untuk menjadi negara pengekspor kebutuhan negara lain. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Masyarakat Indonesia sudah sejak lama malas mengolah tanah di negara subur ini. Pun demikian dengan pemerintahnya, mereka kurang memperhatikan kesejahteraan para petani. Kebijakan negara ini lebih fokus pada dunia industri, kebijakan ekonomi makro dan lain-lain yang menjadikan rakyat kecil sekadar menjadi buruh, bahkan di negaranya sendiri.

Tak banyak masyarakat yang memiliki pandangan hidup ukhrawi. Inilah yang menjadi sebab tak banyak orang memiliki semangat mengejar kebaikan dalam menanam ini. Mayoritas ingin mendapatkan hasil usaha yang instan, yang membuat cepat kaya dan tak membutuhkan waktu lama untuk menarik harta hasil pekerjaannya.

Pekerjaan menanam memang membutuhkan kesabaran, kepasrahan dan kegigihan. Kesabaran dalam menunggu hasil. Kepasrahan dalam menanti. Dan kegigihan dalam mengupayakan proses. Meski hasil yang diperoleh seringkali tak sesuai dengan prediksi.

Lebih jauh lagi, pekerjaan menanam hakekatnya adalah investasi akhirat. Sebagaimana Rasulullah saw mengisyaratkan dalam hadis. Beliau bersabda,

“Kalau kamu tahu besok akan terjadi kiamat, namun di tanganmu masih ada benih tanaman yang belum kau tanam. Segeralah kau tanam!”.

Beginilah Rasulullah saw mendidik para sahabat. Beliau mendorong mereka untuk mengejar pahala di akhirat. Secara logika, tak mungkin orang yang menanam benih sehari sebelum kiamat akan dapat memanen. Namun demikianlah Rasulullah mengajarkan paradigma akhirat. Bahwa hidup hanyalah tempat bercocok tanam. Tempatnya menanam, bukan memanen. Hanya di negeri akhiratlah sejatinya seorang muslim memanen hasil usahanya di muka bumi.

Dalam hadis lain, Rasulullah saw mendorong para sahabat untuk bercocok tanam. Beliau bersabda

“Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman, melainkan apa saja yang dapat dimakan dari hasil tanamannya itu, maka itu adalah sebagai sedekah baginya, dan apa saja yang tercuri daripadanya, itupun sebagai sedekah baginya. Dan tidak pula dikurangi oleh seseorang lain, melainkan itupun sebagai sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Maka tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman lalu ada orang, atau hewan-hewan atau burung yang memakannya, kecuali hal itu akan menjadi shodaqoh baginya di hari kiamat.”

Betapa besar keutamaan pahala bagi orang-orang yang menanam. Oleh karena itu mari mulai menanam. Bukankah apa yang kita nikmati saat ini pun adalah hasil cocok tanam para pendahulu kita?

Wallaahu a’lam.

Khilafah dan Demokrasi

Sebenarnya, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat.

Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dsb, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi. Karena itu, demokrasi memang harus dinikmati, selama tidak bertentangan dengan Islam. Itulah yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam, dengan caranya masing2. ada yang masuk sistem politik, ada yang di luar sistem politik,tetapi masuk sistem pendidikan, dll.  Tapi, mereka tetap hidup dan menikmati sistem demokrasi. saat HTI menjadi Ormas, itu juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Karena itu, menolak semua unsur dalam demokrasi juga tidak tepat. Karena demokrasi adalah istilah asing yang harus dikaji secara kritis. Para ulama kita sudah banyak melakukan kajian terhadap demokrasi, mereka beda-beda pendapat dalam soal menyikapinya. tapi, semuanya menolak aspek “kedaulatan hukum” diserahkan kepada rakyat, sebab kedaulatan hukum merupakan wilayah Tuhan. kajian yang cukup bagus dilakukan oleh Prof Hasbi ash-Shiddiqy dalam buku Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam.

Inilah yang kita sebut sebagai proses Islamisasi: menilai segala sesuatu istilah  “asing” dengan parameter Islam. Contoh kajian yang bagus dilakukan oleh Ibn Taymiyah dalam menilai istilah-istilah dalam sufi, yang asing dalam Islam, seperti “kasyaf”, “fana”, dan sebagainya. al-Ghazali juga contoh yang baik saat menilai istilah dan faham “falsafah”. ada yang diterimanya, tetapi juga ada yang ditolaknya.

Jadi, menurut saya, kenajisan istilah “demokrasi”  bukan “lidzatihi”, tetapi “lighairihi”, karena masih bisa “disamak”. Saat ini pun kita telah menggunakan berbagai istilah asing yang sudah diislamkan maknanya, seperti “agama”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, “pahala”, dll.

Masalah khilafah juga perlu didudukkan pada tempatnya. Khilafah adalah sistem politik Islam yang unik dan khas. Tentu, agama dan ideologi apa pun, memerlukan dukungan sistem politik untuk eksis atau berkembang. Tetapi, nasib dan eksistensi umat Islam tidak semata-mata bergantung pada khilafah. Kita dijajah Belanda selama ratusan tahun, Islam tetap eksis, dan bahkan, jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat Islam. Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim. Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.

Jadi, ungkapan “masalah umat akan beres jika khilafah berdiri”, juga tidak selalu tepat. Yang lebih penting, menyiapkan orang-orang yang akan memimpin umat Islam. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Entah mengapa Rasulullah saw — setahu saya — tidak banyak (hampir tidak pernah?) mengajak umat Islam untuk mendirikan negara Islam. meskipun negara pasti suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam, sebab berbagai aspek hukum dan kehidupan umat terkait dengan negara.

Tapi, saya tidak ketemu hadits: “Mari kita dirikan negara, agar kita jaya!”  Tentu, bukan berarti negara tidak penting.

Terakhir, soal “cara mendirikan khilafah”. Saya sering terima SMS, bahwa khilafah adalah solusi persoalan umat. beberapa kali acara, saya ditanya, mengapa saya tidak membicarakan khilafah sebagai solusi umat! Saya pernah sampaikan kepada pimpinan HTI, tahun 2010 lalu, tentang masalah ini.

Menurut saya, semangat mendirikan khilafah perlu dihargai. itu baik. tetapi, perlu didudukkan pada tempatnya juga. itu yang namanya adil. Jangan sampai, ada pemahaman, bahwa orang-orang yang rajin melafalkan kata khilafah dan rajin berdemo untuk menuntut khilafah merasa lebih baik daripada para dai kita yang berjuang di pelosok membentengi aqidah umat, meskipun mereka tidak pernah berdemo menuntut khilafah, atau bergabung dengan suatu kelompok yang menyatakan ingin mendirikan khilafah.

“Mendirikan khilafah” itu juga suatu diskusi tersendiri. Bagaimana caranya? AD Muhammadiyah menyatakan ingin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya! Persis juga punya tujuan serupa. DDII juga sama. Mars MTQ ada ungkapan “Baldatun Thayyitabun wa Rabbun Ghafur”. Apa itu tidak identik dengan “khilafah”. AD/ART PKS juga ingin memenangkan Islam.

Walhasil, menurut saya, dimensi perjuangan Islam itu sangat luas. semua kita yang ingin tegaknya Islam, perlu bekerjasama dan saling menghormati. Saya sebenarnya enggan menulis semacam ini, Karena saya sudah menyampaikan secara internal. tetapi, karena diskusi masalah semacam ini sudah terjadi berulang kali.

Masalah umat ini terlalu besar untuk hanya ditangani atau diatasi sendirian oleh PKS, HTI, NU, Muhammadiyah, INsists, dll. Kewajiban diantara kita adalah melakukan taushiyah, bukan saling mencerca dan saling membenci. Saya merasa dan mengakui, kadang terlalu sulit untuk berjuang benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan berjuang untuk kelompok, tapi untuk kemenangan Islam dan ikhlas karena Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Makalah Dr. Adian Husaini, di Milis INSIST)

Mendidik Akhlak dengan Cerita

GambarMendidik akhlak atau karakter anak harus dengan metode yang tepat sebab mereka adalah pembelajar yang unik. Mereka cepat menangkap namun cepat pula dilanda bosan. Semangat dan mood mereka dapat mudah berganti dari menit ke menit. Jika pendidik salah menerapkan metode, mereka akan jenuh bahkan mogok belajar. Kesalahan metode berakibat sangat fatal.

Sebelum melangkah ke metode, guru harus mengetahui bahwa mendidik akhlak memiliki beberapa komponen. Menurut para ahli pendidikan, komponen pendidikan nilai atau moral itu meliputi tiga hal. Pertama, moral knowing yaitu menjadikan anak tahu nilai-nilai akhlak yang baik. Kedua, moral feeling yaitu membuat anak merasakan manfaat nilai-nilai itu. Dan ketiga, moral action yaitu melatih anak membiasakan akhlak  tersebut.

Metode yang dapat memenuhi tiga komponen ini sekaligus secara singkat dan tepat adalah metode cerita. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita dapat menunjang perkembangan bahasa, kognitif, karakter dan sosial anak-anak dengan efektif. Karena nilai moral dan akhlak yang terdapat dalam cerita tidak disampaikan secara langsung, tetapi melalui imajinasi dan metafora-metafora, sehingga proses pendidikan berlangsung menyenangkan dan tidak menggurui. Nilai-nilai yang terkandung diterima oleh anak dan secara tidak sadar mengubah dan menyusun ulang sikap dan kepribadian mereka.

Menurut Joan Glazer, seorang pendidik Amerika, cerita berperan dalam membantu perkembangan sosialisasi anak-anak karena empat alasan berikut:

Pertama, cerita memperlihatkan kepada anak-anak bahwa banyak dari perasaan mereka dialami juga oleh anak-anak yang lainnya, dan bahwa semua perasaan yang terjadi wajar serta alamiah. Kedua, cerita menjelajahi serta meneliti dari berbagai sudut pandang memberikan suatu gambaran yang lebih utuh dan bulat, memberikan dasar penanaman emosi tersebut. Ketiga, perilaku para tokoh memperlihatkan berbagai pikiran mengenai cara menggarap emosi-emosi tersebut. Keempat, cerita turut memperjelas bahwa seorang manusia mengalami berbagai perasaan dan perasaan tersebut kadang bertentangan serta menimbulkan konflik.

Selain itu, penanaman akhlak melalui cerita sangat efektif sebab cerita sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hubungan kegiatan bercerita (mendongeng) dengan pembentukan kepribadian anak terjadi saat anak mulai dapat mengidentifikasi tokoh. Ketika anak ikut hanyut dalam cerita, ia segera melihat dongeng dari mata, perasaan dan sudut pandangnya. Setiap tokoh yang ada dalam cerita mewakili karakter tertentu. Ada tokoh dengan karakter positif, tetapi juga ada yang negatif, yang dengan itu anak diharapkan dapat mengadaptasi karakter positif sang tokoh dan mengabaikan karakter negatifnya.

Ketika melakukan penelitian di pesantren, berkaitan dengan pembelajaran bahasa Arab melalui buku cerita Bahr Al-Adab (Samudera adab), penulis menemukan bahwa cerita memiliki pengaruh positif yang sangat besar. Para siswa mengungkapkan bahwa mereka sangat termotivasi untuk meniru sifat-sifat baik yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Sebagai contoh, seorang siswa mengungkapkan bahwa ia akan hati-hati dalam bergaul setelah mendengar kisah tentang buah jeruk. Kisah ini menggambarkan nasehat seorang ayah kepada anaknya tentang bahaya bergaul dengan orang-orang yang berperangai buruk. Suatu hari, Si ayah memasukkan jeruk yang sudah busuk ke dalam keranjang berisi jeruk yang masih segar. Sang anak mencegah karena tahu bahwa jeruk busuk itu akan membuat busuk jeruk yang lain. Saat itulah Si ayah menyampaikan nasehatnya bahwa manusia itu ibarat jeruk. Yang segar (baik) akan busuk apabila bergaul dengan orang-orang yang busuk.

Contoh lain, seorang siswa bertekad untuk menjadi pribadi yang bermanfaat setelah mendengar kisah seorang kakek yang menanam pohon kurma. Kisah ini menceritakan tentang seorang kakek yang sedang menanam pohon kurma lalu didatangi oleh seorang raja dan bertanya alasan ia menanam. Sebab dapat dipastikan si kakek tidak akan menikmati buahnya. Lalu si kakek menjawab bahwa kurma yang dimakan olehnya pun adalah buah dari pohon yang ditanam kakeknya dulu.

Dalam prakteknya di sekolah, keuntungan dari metode cerita adalah dapat diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran. Metode pembelajaran yang integratif sangat bermanfaat untuk pembinaan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa karena manusia hakekatnya belajar dengan cara seperti ini. Selama ini pendidikan cenderung mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berfikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Padahal belajar tidak hanya berpikir. Sebab ketika orang sedang belajar, maka ia melakukan berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai dan lain sebagainya.

Jika kita peduli terhadap pembinaan akhlak, maka mulailah menjadikan aktivitas bercerita sebagai metode mendidik anak-anak kita, di rumah dan di sekolah.