nasehat

bismillahirrahmaanirrahiem

Terlepas dari konteks sosial dan politik yang sedang terjadi, dari sudut pandang kependidikan nasehat berikut ini layak diapresiasi dengan setinggi-tingginya. Ia memuat sebuah kebenaran abadi:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah menjaga lisannya.

diambil dari sebuah status di facebook. sila dibaca,

Nak, sekarang ini jaman sudah berubah
Tak sama seperti jaman bapakmu
Dulu nak, eyangmu suka berpesan,
“Jangan Suka Marah, Nanti Cepat Tua!”
Tapi sekarang beda nak,
“Kalo kamu pemarah itu tandanya kamu pantas jadi gubernur Jakarta!”

Nak, sekarang ini jaman sudah berubah
Kalau dulu pemimpin itu memberi contoh pada rakyatnya,
Dengan berperilaku santun dan ucapan yang baik,
Sekarang Nak, pemimpin itu memberi contoh mengumpat, menghujat dan mengajak berantem orang yang tidak suka padanya.
Dan sekarang Nak, pemimpin seperti itu dipuja dan disembah,

Nak, dulu seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa tak akan mengubar kata kata semaunya
Dan Nak, Nabimu juga mengajarkan untuk menjadi orang yang tegas menghadapi kemungkaran bukan dengan kata kata dan prilaku yang beringas.

Nak, Nabimu juga pernah marah, tetapi tidak setiap saat selalu marah apalagi untuk hal hal yang sepele.
Nak, Nabimu memerintahkan kamu untuk marah apabila kehormatan agamu dihina,
Tetapi Nak, Nabimu tak pernah marah dan bahkan memaafkan orang orang yang menghina pribadinya.

Nak, janganlah kamu tertipu dengan kebesaran orang orang yang dibesarkan oleh media,
Nak, ingatlah mereka pasti akan juga dihancurkan oleh media.

Nak, tetaplah kamu belajar dan rendah hati
Meski kelak kau jadi pemimpin

duhai jiwa

Duhai jiwa, adakah kau sadari, betapa engkau tak bisa tunduk dalam kuasa ilahi, betapa engkau tak mampu tegak berdiri dalam bimbingan fitri, betapa engkau tak bisa tenang dalam bisikan malaki, betapa engkau tiada arti, hanya menuruti dorongan birahi, hanya mengikuti panggilan syahwati, hanya menaati perintah syaithani, hanya berlari mengejar fatamorgana duniawi.

Duhai jiwa, tak bisakah kau berhenti berlari, tak bisakah kau duduk sendiri, merenung dalam ruang hati, bersimpuh di atas hamparan bakti, menutup mata dari kilau tak asli, dan membukanya tuk mencari cahaya hakiki, menutup telinga dari hingar bingar janji tak pasti, membukanya tuk kedamaian ukhrawi

Duhai jiwa, di mana engkau kini, di persimpangankah engkau berdiri, atau jauh menyimpang dari jalan lempang para Nabi,

Duhai jiwa, ke mana engkau akan pergi, ke mana kakimu menuntun jasmani, ke mana tanganmu menuntun aqli, ke mana fitrahmu tersesat di awal pergi,

Duhai jiwa, bersabarlah, bertahanlah, berjuanglah, bermujahadahlah, bersyukurlah, bertobatlah, berdamailah

Duhai jiwa, sepilah, sendirilah, senyaplah, lenyaplah..

(dalam gelap ruang hati, 10 Mei 2010)

pulang kampung

ini sajak milik Jafar Fakhrurozi. saya ambil dari Republika, Minggu 4 Januari 2009

aku selalu rindu kampung
rindu rumah dan sangkar walet
sepasang sahabat yang teduh
kami karib setiap kali hujan

aku selalu rindu sawah
rumah bagi segala gundah
anak-anak lumpur yang galau
menangis tersengat semut api

aku rindu irama malam
riang anak-anak mengaji di surau
anak-anak qur’an yang lugu
melantunkan nyanyian malam

ah, aku benar-benar rindu
memutar lagu-lagu itu

rindu, pilu

Setiap langkahku adalah rindu

Di tengah galau batu menuju kelabu

Jejaknya tinggalkan biru, bersama merah di wajahwajah sekitarku

Namun, rindu adalah jua tikaman di dadaku

Seperti juga panah menembus jantunghatimu

Yang lahirkan gerimis di sapaku

Yang hapus wajahmu dari hadirku

Setiap zikirku adalah pilu

Dalam tatihtatih langkah menuju temu

Detaknya adalah jarumjarum di tapak hari-hariku

Yang mengikat benang ke helai sapu tanganmu

Lalu kau urai kembali lembarlembar benang itu

Katamu, warnanya terlalu pilu

Namun kau tidak tahu

Bahwa pilu adalah warna kesukaanku

Cell Phone vs Quran

di FaceBook saya dapat kiriman tulisan ini. wuih, keren banget…! jadi bahan renungan mendalam buat saya. bagaimana dengan anda?

Ever wonder what would happen if we treated our Quran like we treat our cell phone?

What if we carried it around in our purses or pockets?

What if we flipped through it several time a day?

What if we turned back to go get it if we forgot it?

What if we used it to receive messages from the text?

What if we treated it like we couldn’t live without it?

What if we gave it to kids as gifts?

What if we used it when we traveled?

What if we used it in case of emergency?

This is something to make you go….hmm…where is my Quran?

Oh, and one more thing.

Unlike our cell phone, we don’t have to worry about our Quran being disconnected