Menumbuhkan Komunikasi yang Baik

Komunikasi adalah kunci utama seorang guru untuk memasuki dunia murid. Seringkali gap usia yang cukup jauh antara guru dan murid membuat guru berjarak dengan murid. Padahal transfer ilmu dan nasehat-nasehat yang mendidik hanya bisa dilakukan jika guru dan murid sama-sama berdekatan jaraknya, baik jarak fisik ataupun psikis. Bagaimana membangun komunikasi yang baik, tulisan di bawah ini akan membahas secara singkat.

Selama ini ada anggapan semakin sering guru melakukan komunikasi dengan muridnya, makin baik hubungan mereka. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi itu dilakukan, tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Bilac antara guru dan murid berkembang sikap curiga, maka semakin sering guru berkomunikasi bukannya semakin dekat, tetapi jarak mereka akan semakin jauh. Hubungan yang baik tidak ditentukan oleh kuantitas komunikasi, tetapi ditentukan oleh kualitas komunikasinya. Ada tiga hal yang dapat menumbuhkan hubungan komunikasi yang baik, yaitu percaya, sikap suportif dan sikap terbuka.

Percaya (Trust) adalah faktor yang paling penting dalam membangun hubungan yang baik. Jika murid percaya kepada gurunya, percaya bahwa gurunya menghendaki kebaikan baginya, percaya bahwa gurunya tidak akan mengkhianati atau merugikannya, maka dia akan lebih banyak membuka dirinya. Lalu bagaimana guru mendapat kepercayaan dari murid? Kata kuncinya adalah integritas. Integritas adalah harga mati bagi seorang guru. Jika guru berlainan antara ucapan dan perbuatannya, maka hilanglah integritasnya, hilang pula kepercayaan muridnya. Ketika guru, misalnya, menekankan kedisiplinan kepada murid tetapi dia sendiri tidak disiplin, hilanglah integritas itu.

Sebaliknya bagi guru, tanamkanlah dalam hati bahwa semua murid dapat dipercaya. Tumbuhkanlah sikap menerima bagaimana pun keadaan murid. Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. Dengan penerimaan yang baik, guru akan mendapatkan kepercayaan. Dan dengan kepercayaan murid akan mampu diarahkan kepada perilaku yang baik.

Faktor kedua dalam menjalin hubungan yang baik adalah sikap suportif. Sikap suportif adalah sikap mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis. Sikap defensif biasanya lahir ketika guru merasa lebih superior dari murid. Superior artinya sikap menunjukkan anda lebih tinggi atau lebih baik daripada orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan dan lain-lain. Kebalikannya adalah sikap egaliter (persamaan). Komunikasi yang baik akan tumbuh ketika guru menganggap dirinya sama dengan murid. Dalam sikap egaliter guru tidak mempertegas perbedaan. Status boleh jadi berbeda, tetapi komunikasi tidak vertikal. Guru tidak menggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama.

Faktor ketiga yang menentukan tumbuhnya komunikasi yang baik adalah sikap terbuka (open-mindedness). Guru yang baik akan bersikap layaknya lautan yang menerima asupan air dari hilir-hilir sungai. Ketika murid berkomunikasi dengannya, ia menahan dirinya dari mengomentari, menilai atau mendogma murid. Biarkan murid-murid mengungkapkan isi hatinya. Hilangkan pikiran-pikiran yang menuntut murid harus begini atau begitu. Kalaupun yang disampaikan murid mengandung kesalahan, hal itu dapat diperbaiki setelah murid menumpahkan semua ide dan pendapat yang ada dalam pikirannya.

Proses belajar mengajar akan berjalan baik hanya jika terjalin komunikasi yang baik. Faktor-faktor untuk mewujudkan komunikasi yang baik di atas, pertama-tama harus dimiliki oleh guru, sebab fungsi guru selain sebagai pendidik adalah komunikator. Pemahaman tentang komunikasi yang baik akan menjadi modal utama bagi guru untuku menyukseskan murid-muridnya. Wallahu a’lam.

*dimuat di harian Pikiran Rakyat hari Jumat, 28 Agustus 2015

Menumbuhkan Komunikasi

Iklan

Sejarah Pacaran

Dulu, dalam tradisi Melayu..

Ketika seorang Pemuda jatuh hati pada seorang Gadis, pada Bulan Purnama ia pergi kerumah Gadis itu, tapi ngk masuk, melainkan ia pergi ke bawah jendela kamar si Gadis.

Di bawah jendela itu, Pemuda itu memainkan serulingnya dengan Merdu, juga bersya’ir dg kata-kata nan Indah, dg kencang agar orang tua si gadis juga mendengar

Alhasil, Pemuda tersebut dipanggil Ayah si Gadis, lalu ia ditanya keseriusan nya, jauhi atau menikah.
Bila benar serius maka, Pemuda dan Gadis ini di pisahkan selama 40 hari, sembari di olesi daun “Pacar” pada tangannya.

Nah, dalam 40 hari itu..
Pemuda, mempersiapkan biaya pernikahan, rumah, dan segala kebutuhan untuk berumah tangga
Gadis, di beri pendidikan bagaimana berumah tangga oleh ibunya, bagaimana masak, merawat rumah, merawat suami, dan anak.

Ketika tanda daun Pacar nya sudah hilang selama 40 hari keduanya pun di nikahkan.

(sumber: dari instagram @tausyiahku)