Renungan Gerhana

th

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan batil (tanpa hikmah). yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Q.S. Shad: 27)
Saudaraku, pernahkah kita memperhatikan daun-daun yang jatuh tertiup angin? Atau mentari yang menyambut setiap pagi? Atau desiran angin yang bertiup ke wajah kita? Atau, pernahkah kita merenungkan apa yang ada di balik awan hitam yang menggelayut di atas kepala kita?
Mungkin, pertanyaan-pertanyaan di atas terlalu naif untuk diungkit-ungkit. Di tengah kesibukan kita mengurusi dunia, fenomena-fenomena alam di atas, mungkin, hanya urusan remeh belaka. Apa urusan kita untuk memperhatikan daun yang jatuh? Apa urusan kita mengamati mentari yang terbit? Apa urusan kita mencoba mendengar angin yang hinggap di telinga? Dan apa urusan kita merenungkan awan hitam?
Fenomena-fenomena tersebut telah Allah sebutkan dalam firman-Nya.
“Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Q.S. Al-An’am: 59)
“Perhatikanlah matahari dan sinarnya di pagi hari.” (Q.S. As-Syams: 1)
“Maka tatkala mereka melihat awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (Q.S. al-Ahqaf: 24)
Saudaraku, semua fenomena alam yang terjadi setiap hari adalah peringatan dari Allah. Semuanya ajaib. Semuanya luar biasa. Semuanya dahsyat. Namun, kita menganggapnya biasa karena kita terlalu sering melihat kedahsyatan tersebut. Sehingga tak jarang kita menganggapnya sesuatu yang biasa dan tak mengandung hikmah sedikitpun.
Tahukah anda bahwa Rasulullah saw selalu gelisah ketika melihat fenomena-fenomena alam tadi? Istri beliau tercinta yang menceritakan kepada kita.
Aisyah, bertanya “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang bergembira ketika melihat awan hitam, mereka berharap akan datangnya hujan. Sedangkan aku melihat ada ketakutan di wajahmu saat melihatnya. Ada apa gerangan?”
Beliau menjawab, “Ya Aisyah, Aku tidak merasa aman dari adzab yang pernah turun kepada umat sebelum kita.” (H.R. Bukhari)
Bahkan ibnu Abbas pernah bercerita, sesungguhnya Rasulullah selalu gemetar lututnya (saat melihat angin dan awan hitam), beliau mengucapkan Allahummaj’alha rahmatan wa laa taj’alhaa adzaban (Ya Allah jadikan dia rahmat, dan jangan jadikan dia adzab). (H.R. Syafi’i dan ath-Thabraniy)
Itulah sikap Rasulullah terhadap fenomena-fenomena biasa yang terjadi di alam. Lalu, bagaimana dengan fenomena-fenomena yang jarang terjadi? Sikap Rasulullah tentu lebih dari itu. Sebagai gambaran, mari kita perhatikan hadits berikut,
Dari Aisyah, ia berkata, terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw shalat mengimami orang-orang … Kemudian beliau berkhutbah kepada manusia, maka beliau membaca tahmid dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. tidak terjadi gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah dan bertakbirlah, dan shalatlah dan bersedekahlah.” Kemudian beliau bersabda, “wahai umat Muhamad, demi Allah tidak ada seorang pun yang lebih cemburu dari Allah ketika hamba-Nya (laki-laki atau perempuan) melakukan zina. Wahai umat Muhamad, demi Allah kalau kalian mengetahui apa yang aku tahu, pasti kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (H.R. Bukhari)
Fenomena-fenomena alam (yang kita anggap) biasa, beliau hadapi dengan rasa takut dan doa. Fenomena alam yang tak biasa, seperti gerhana, beliau hadapi dengan doa, takbir, shalat, khutbah dan sedekah.
Saudaraku, doa adalah ibadah khusus, takbiran adalah ibadah khusus, shalat dan khutbah adalah ibadah khusus, dan sedekah adalah ibadah khusus. Masing-masing, biasanya, kita laksanakan secara terpisah. Ketika ibadah-ibadah tesebut dilaksanakan bersamaan untuk menghadapi sebuah peristiwa, apakah kita masih akan menganggap peristiwa itu biasa?
Mari perhatikan akhir khutbah Rasulullah yang tadi. Beliau menyatakan,
“Kalaulah kalian mengetahui apa yang aku tahu. Kalian pasti akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Saudaraku Rasulullah telah berkali-kali melihat surga dan neraka. Beliau tahu persis orang-orang seperti apa yang mengisi surga, sebagaimana beliau pun sangat kenal siapa yang mengisi neraka. Rasulullah bercerita kepada Mu’adz bin Jabal. Beliau bersabda,
Sepuluh kelompok dari umatku dibedakan dari kelompok besar kaum muslimin. Allah mengganti rupa dan tampilan mereka. Di antara mereka ada yang (1) berwajah kera. (2) Berwajah babi. (3) Yang terbalik: kaki mereka menggantung di atas, sedang wajah mereka diseret di atas tanah. (4) Yang buta. (5) Yang bisu dan tuli dan kehilangan akal. (6) Yang mengunyah (memotong) lidahnya sendiri. Lidahnya terus memanjang ke dada mereka, dan mengalirlah nanah dari mulut mereka hingga mereka dijauhi orang-orang. (7) Yang putus tangan dan kakinya. (8) Yang disalib di atas tiang dari api. (9) Yang badannya berbau busuk seperti bangkai. Dan terakhir, (10) Yang dipakaikan di tubuhnya pakaian dari timah yang sangat panas sehingga melekat di kulit mereka.
Lalu Rasulullah menjelaskan bahwa orang-orang yang berwajah kera, mereka adalah tukang fitnah, pangadu domba antara manusia. Orang-orang dengan gambaran babi adalah, orang yang biasa makan makanan yang haram. Orang-orang yang dibalik rupanya adalah para pemakan riba. Orang-orang yang buta adalah para pelanggar hukum Allah. Yang tuli dan bisu adalah orang yang ujub dengan amal mereka. Orang yang memotong lidahnya adalah, para ulama dan para pencerita yang perbuatan mereka menyalahi apa yang mereka ucapkan.Orang yang memotong tangan dan kakinya adalah orang-orang yang suka menyakiti tetangga (sesama manusia). Orang-orang yang disalib pada tiang dari api adalah orang-orang yang mengumpat dan memfitnah orang di hadapan penguasa. Orang-orang yang berbau bangkai busuk, adalah orang-orang yang tenggelam dalam nafsu syahwat dan kelezatan duniawi. Mereka tidak mengeluarkan hak Allah dari harta mereka. Dan orang-orang yang dipakaikan pakaian dari timah panas adalah orang-orang sombong dan berbangga diri. (Tafsir al-Qurthuby juz 19: 169)
Itu satu bentuk kedahsyatan hari akhirat. Makanya Rasulullah selalu berdoa untuk dihindarkan dari adzab qubur (akhirat) di setiap terjadi gerhana. Dalam sebuah hadits dinyatakan,
“Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw. Maka beliau keluar di waktu dhuha. Kemudian beliau berdiri shalat mengimami orang-orang, … setelah selesai shalat beliau memerintahkan mereka untuk meminta perlindungan kepada Allah dari adzab qubur.” (H.R. Bukhari)
Dalam hadits lain dinyatakan, Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang. Tapi sesungguhnya Allah sedang memberi peringatan kepada hamba-hamba-Nya dengannya.” (H.R. Bukhari)
Dalam hadits tersebut Rasulullah menggunakan lafadz yukhowwifu, yang secara harfiyah berarti menaku-nakuti. Tentu tujuannya sangat jelas, agar peringatan itu membuat manusia takut kepada Sang Pencipta gerhana.
Saudaraku, tiada yang biasa di dalam gerak kehidupan kita. Tiada yang biasa dalam gerak alam raya. Semuanya luar biasa. Semuanya harus direnungkan dengan seksama. Sungguh, tiada yang paling layak untuk kita lakukan selain apa yang telah al-Quran sampaikan,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran: 190-191)
Saudaraku, beberapa hari lagi kita akan menghadapi gerhana bulan bertepatan dengan hari kemerdekaan, 17 Agustus 2008. Hari itu, akankah kita banyak tertawa ataukah banyak menangis. “Rabbana tidaklah Kau ciptakan semua ini sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

nasehat

bismillahirrahmaanirrahiem

Terlepas dari konteks sosial dan politik yang sedang terjadi, dari sudut pandang kependidikan nasehat berikut ini layak diapresiasi dengan setinggi-tingginya. Ia memuat sebuah kebenaran abadi:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah menjaga lisannya.

diambil dari sebuah status di facebook. sila dibaca,

Nak, sekarang ini jaman sudah berubah
Tak sama seperti jaman bapakmu
Dulu nak, eyangmu suka berpesan,
“Jangan Suka Marah, Nanti Cepat Tua!”
Tapi sekarang beda nak,
“Kalo kamu pemarah itu tandanya kamu pantas jadi gubernur Jakarta!”

Nak, sekarang ini jaman sudah berubah
Kalau dulu pemimpin itu memberi contoh pada rakyatnya,
Dengan berperilaku santun dan ucapan yang baik,
Sekarang Nak, pemimpin itu memberi contoh mengumpat, menghujat dan mengajak berantem orang yang tidak suka padanya.
Dan sekarang Nak, pemimpin seperti itu dipuja dan disembah,

Nak, dulu seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa tak akan mengubar kata kata semaunya
Dan Nak, Nabimu juga mengajarkan untuk menjadi orang yang tegas menghadapi kemungkaran bukan dengan kata kata dan prilaku yang beringas.

Nak, Nabimu juga pernah marah, tetapi tidak setiap saat selalu marah apalagi untuk hal hal yang sepele.
Nak, Nabimu memerintahkan kamu untuk marah apabila kehormatan agamu dihina,
Tetapi Nak, Nabimu tak pernah marah dan bahkan memaafkan orang orang yang menghina pribadinya.

Nak, janganlah kamu tertipu dengan kebesaran orang orang yang dibesarkan oleh media,
Nak, ingatlah mereka pasti akan juga dihancurkan oleh media.

Nak, tetaplah kamu belajar dan rendah hati
Meski kelak kau jadi pemimpin