Tugas Ulama di Masa Krisis

Peran para ulama di Indonesia saat ini masih belum memberikan solusi berarti bagi permasalahan bangsa. Hal ini diakui oleh KH. Makruf Amin di sela-sela perhelatan Munas MUI ke-9 di Surabaya baru-baru ini. Menurutnya, MUI sebagai representasi para ulama baru memiliki kemampuan untuk menghimbau. Tak kurang tak lebih. Bahkan dalam sambutannya, Presiden Jokowi lebih menyempitkan peran MUI itu hanya sebagai motivator saja. Presiden mengungkapkan harapannya agar MUI memandu dan membangkitkan optimisme umat di tengah melemahnya kondisi ekonomi tanah air. Pernyataan presiden tersebut, tidak mustahil, malah menjadi pembenaran tesis kaum Marxis bahwa agama adalah candu masyarakat. Agama difungsikan sebagai pengalihan dan pelarian dari permasalahan hidup. Hal ini tentu saja sangat menyimpang mengingat peran yang seharusnya dimainkan oleh para ulama. Tulisan ini akan menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh para ulama di tengah gelombang krisis.
Pewaris Nabi
Dalam ajaran Islam, ulama menempati posisi sentral. Kata Rasulullah Saw: “Ulama adalah pewaris para nabi. Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak juga dirham, melainkan mereka hanya mewariskan ilmu”. Rasulullah juga memposisikan para ulama laksana bintang yang menjadi tempat umat mendapat bimbingan dan petunjuk. Maka dalam sejarah Islam ulama memegang peran yang sangat vital. Ketika Abu Bakar menjadi pemimpin politik, maka Umar bin Khatab ra, Ali ra dan sebagainya menjalankan peran ulama yang aktif menasehati dan mengontrol penguasa. Begitu juga ketika Umar ra menjadi penguasa, para sahabat lain menjalankan fungsi kontrol dengan sangat efektif. Sebagai pewaris Nabi, para ulama bertanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan fungsi ini.
Said Hawwa, ulama asal Syiria, menjelaskan bahwa peran para Nabi ada tiga: Tadzkirah, Ta’lim dan Tazkiyah. Tadzkirah artinya memberi peringatan. Dalam bahasa Al-Qur’an tadzkirah dicerminkan dalam bentuk memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar (Qs. Ali Imran: 110). Medan tadzkirah sangat luas, termasuk dalam bidang ekonomi. Jika ada suatu kebijakan ekonomi yang keluar dari aturan Islam atau menyusahkan umat, para ulama harus segera angkat bicara. Di ambang terjadinya krisis ekonomi, para ulama seharusnya segera menyampaikan catatan-catatan kritisnya.
Ta’lim artinya mengajar. Di dalamnya terkandung makna mendidik dan mengembangkan potensi umat. Apa yang diajarkan Nabi? Al-Qur’an menjawab bahwa tugas Nabi adalah mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits (Qs. Ali Imran: 164). Keduanya adalah seperangkat pedoman yang diberikan Allah Swt dan Rasulullah Saw untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Orang yang terdidik dengan al-Quran dan Hadits akan tampil sebagai penyelamat umat dari krisis. Mari kita tengok teladan Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang menyelamatkan ekonomi umat Islam dengan sedekahnya. Keduanya mampu membalikkan ekonomi di Madinah yang sebelumnya ada di bawah penguasaan kaum Yahudi ke tangan umat Islam.
Hingga saat ini, proses ta’lim yang dilakukan oleh para ulama masih tersebar di wilayah pinggiran, di pesantren-pesantren yang jauh dari pusat kekuasaan negara. Upaya pendidikan di pusat-pusat kota dirasa masih kurang maksimal. Masih kalah oleh hingar bingar tempat-tempat hiburan seperti bioskop, mall dan diskotik. Akibatnya, dakwah belum menyentuh para konglomerat. Tak ada kader potensial umat yang rela mengorbankan harta dan asetnya untuk menyelamatkan umat dari krisis. Hal ini menunjukkan lemahnya posisi dan peran ta’lim dari para ulama di hadapan umat Islam sendiri.
Sedangkan Tazkiyah artinya menyucikan atau membersihkan. Imam Al-Ghazali memaknainya sebagai Tazkiyah al-Anfus atau menyucikan jiwa manusia dari sifat-sifat yang mengotorinya. Dalam Al-Quran dinyatakan bahwa orang-orang yang menyucikan jiwanya adalah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya orang yang rugi adalah yang membiarkan jiwanya kotor (Qs. Al-Syams: 9-10). Kotoran-kotoran jiwa itu adalah sifat-sifat yang merusak fitrah manusia, seperti cinta dunia, menumpuk harta, iri, dengki, sombong, kikir dan lain-lain. Masih banyak umat Islam yang berlebih secara ekonomi, namun tidak peduli terhadap saudaranya yang miskin. Potensi zakat, infak dan shodaqoh yang sangat besar masih jauh dari tujuan ia disyari’atkan. Menurut Dr. Surahman Hidayat dan Yesi Mariska Indira, peneliti dari PIRAC, sampai saat ini potensi zakat yang termanfaatkan dari umat Islam Indonesia sebesar Rp. 900 milyar. Padahal potensi zakat umat Islam mencapai Rp. 20 triliun. Nilai yang cukup fantastis untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Potensi yang dahsyat ini lagi-lagi tersia-sia akibat umat Islam belum mampu menyucikan dirinya dari sifat-sifat kotor seperti kikir dan cinta dunia.
Dalam kasus BPJS yang sangat dibutuhkan kehadirannya oleh rakyat miskin, peran ulama malah kontraproduktif. Fatwa bahwa BPJS belum sesuai syari’at mengisyaratkan ada unsur haram yang terkandung di dalamnya. Namun, fatwa ini seolah tak bertaji mengingat para ulama tidak memberikan alternatif solusi. Jika BPJS haram, lalu ke mana umat menggantungkan harapannya untuk mendapatkan jaminan sosial?
Teladan KH. Ahmad Dahlan
Dalam buku Teologi Pembaharuan, Fauzan Soleh menyampaikan riwayat yang masyhur tentang KH. Ahmad Dahlan. Diceritakan bahwa KH. Ahmad Dahlan selalu saja mengulang-ulang pelajaran surat al-Ma’un dalam jangka waktu yang lama. Bahkan hingga tidak pernah beranjak kepada ayat berikutnya, meskipun murid-muridnya sudah mulai bosan.
Karena jenuh, salah seorang muridnya, KH. Syuja’ -yang masih muda waktu itu-, bertanya mengapa tidak beranjak ke pelajaran berikutnya. Dahlan pun balik bertanya, “Apakah kamu benar-benar memahami surat ini?”. KH. Syuja’ menjawab bahwa ia dan kawan-kawannya sudah memahami benar-benar arti surat tersebut dan bahkan telah menghafalnya di luar kepala.
Kemudian Dahlan bertanya kembali, “Apakah kamu sudah mengamalkannya?”. Dijawab oleh KH. Syuja’, “Bukankah kami membaca surat ini berulang kali sewaktu salat?”
KH. Ahmad Dahlan lalu menjelaskan maksud mengamalkan surat al-Ma’un bukanlah sekedar menghafal atau membacanya semata, namun lebih dari itu semua. Yaitu mempraktekkan al-Ma’un dalam bentuk amalan nyata. “Oleh karena itu setiap orang harus keliling kota mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang ke rumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makan dan minum, serta berikan mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan kepada kalian.”
Inilah teladan ulama sesungguhnya. Proses tadzkirah, ta’lim dan tazkiyah tak hanya dilakukan di tataran konsep, tapi langsung menyentuh realitas. Mari kita tunggu hasil Munas MUI tahun ini. Semoga lahir konsep tadzkirah, ta’lim dan tazkiyah yang langsung menyentuh realitas umat, khususnya dalam menghadapi krisis yang semakin menggila. Wallahu a’lam.

dimuat di Republika 28 Agustus 2015

link: http://epaper.republika.co.id//main/index/2015-08-28

Iklan

Kunci Sukses (Hikmah Ramadhan 1)

Bismillahirrahmaanirrahiem

bayangkan anda sedang memegang sebuah suryakanta. apa yang anda lakukan agar benda itu dapat membakar kertas? ada dua hal yang dibutuhkan suryakanta untuk melakukannya. pertama, cahaya matahari. kedua, fokus. cahaya matahari adalah unsur utama agar kertas dapat terbakar. sedangkan suryakanta fungsinya sekadar alat untuk memfokuskan cahaya dari matahari itu agar berdayabakar.

lalu apa yang dibutuhkan agar kita meraih kesuksesan? jawabannya sama, ada dua hal. pastikan ada cahaya yang kita yakini dalam diri kita. lalu fokuskan arah cahaya itu ke objek yang ingin kita “bakar”.

sahabat, untuk meraih kesuksesan tak cukup dengan mengandalkan keyakinan pada diri sendiri. sebab pada hakikatnya diri kita hanyalah alat, bukan sumber sukses. Allah sangat mengecam orang-orang yang merasa cukup dengan dirinya seperti tergambar dalam banyak ayat Al-Qur’an. orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang merebut selendang satu-satunya milik Allah, yaitu sifat Takabbur.

kesuksesan itu adalah dari Allah swt. seperti pada suryakanta di atas, daya bakar berasal dari cahaya. artinya kesuksesan itu berasal dari cahaya keimanan kepada Allah sebagai pemberi rizki, baik harta, kesehatan, pendidikan, jabatan dan lain-lain. cahaya itu dapat pula berupa keyakinan bahwa Allah telah memberikan kepada kita semua potensi yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan. tugas kita adalah memfokuskan semua keyakinan dan potensi ke satu titik: mengharap ridho Allah. Dan dengan fokus ini, tidak sulit bagi Allah untuk memberikan apa pun yang kita butuhkan, apalagi sekadar sebuah kesuksesan.

sahabat, mari kita renungkan hadits Qudsi berikut ini:

Wahai manusia, fokuskanlah waktu-Mu untuk beribadah kepadaku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan, dan Aku hilangkan kefakiranmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, Aku penuhi hatimu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menghilangkan kefakiranmu. (Hr. Tirmidzi dan Ibn Majah)

sahabat, mari kita fokuskan seluruh kerja kita, silaturahim kita, belajar kita, aktifitas rumah tangga kita, bisnis kita, dan seluruh yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah. dan tunggulah kesuksesan itu pasti akan Allah berikan dalam genggaman kita.

Wallaahu A’lam

Proposal Ramadhan

Bismillaahirrahmaanirrahiem

Alhamdulillah, tahun ini masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan bulan Ramadhan. Saya tak ingin gagal lagi di bulan Ramadhan tahun ini. Mengingat di tahun-tahun sebelumnya ada beberapa hal yang gagal saya lakukan, seperti

  1. Tak dapat memenuhi target khatam Al-Qur’an.
  2. Tak dapat memenuhi target qiyam Ramadhan yang sempurna. Memang di tahun yang lalu setiap malam dapat dilakukan. Tetapi ada satu atau dua hari yang kurang dari 11 rakaat. Saya tidak mau hal itu terulang lagi.
  3. Tak dapat memenuhi target menambah hafalan Al-Qur’an.
  4. Terlalau sibuk dengan urusan keduniaan dan kurang fokus terhadap ibadah, terutama di 10 hari terakhir.

Karena itu, ya Allah, saya memohon hidayah dan inayah dari-Mu untuk dapat memakmurkan Ramadhan tahun ini dengan sukses. Ada beberapa target yang ingin saya raih di Ramadhan tahun ini.

  1. Khatam membaca Al-Qur’an minimal satu kali.
  2. Menghafal ulang Al-Quran.
  3. Shalat fardhu berjamaah minimal 3 waktu shalat setiap hari.
  4. Melaksanakan qiyam Ramadhan secara sempurna setiap hari.
  5. Mengasah kembali kemampuan menulis, agar ke depannya dapat melaksanakan dakwah bil kitabah lebih baik.

Agar target itu tercapai ada beberapa hal yang akan saya lakukan,

  1. Untuk mengkhatamkan Al-Qur’an saya harus membaca minimal satu juz sehari. Teknisnya saya menentukan waktu wajib membaca Al-Qur’an setiap bada shubuh. Selebihnya saya sempatkan di bada shalat fardhu yang lain dan waktu-waktu senggang.
  2. Untuk menghafal ulang al-Qur’an, saya lakukan setiap bada ashar.
  3. Shalat fardhu yang saya wajibkan di masjid adalah waktu shubuh dan isya, satu lagi bisa dilakukan di waktu-waktu shalat yang lain.
  4. Mengasah kemampuan menulis saya lakukan dengan membiasakan kembali membaca tafsir, hadits atau buku-buku yang lainnya setiap hari dan mencoba mengikatnya dengan tulisan.

Selain target-target tersebut, saya memiliki keinginan untuk memperbanyak shodaqoh, baik harta, tenaga atau pun ilmu. Oleh karena itu, setiap memiliki uang akan saya sisihkan sebagian untuk shodaqoh. Shodaqoh tenaga saya lakukan dengan membantu sebagian pekerjaan istri di rumah dan membantu orang lain yang membutuhkan bantuan. Untuk shodaqoh ilmu, saya lakukan dengan memenuhi permintaan jadwal kultum tarawih dan lain-lain.

Untuk mengurangi beban-beban dosa, saya akan mengurangi waktu menonton televisi atau film dan mendengarkan musik.

Untuk persiapan iedul fitri, saya akan mengusahakan untuk menyelesaikan semuanya sebelum masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Ya Allah, tak ada yang saya harapkan dari-Mu kecuali maghfirah. Bimbinglah saya untuk terus berada di jalan-Mu. Berikanlah inayah-Mu agar saya lebih mudah mengamalkan amal-amal kebaikan. Lindungilah saya dari hawa nafsu dan godaan setan agar saya tidak tergelincir ke dalam dosa. Cintakanlah hati saya kepada segala yang dicintai oleh-Mu.

Ya Allah, jadikanlah Ramadhan tahun ini penghapus segala dosa dan kesalahan saya.

Ya Allah, inilah proposal Ramadhanku. Mohon kemudahan dalam melaksanakan isinya. Aamiin.

postingan di sela desakan deadline

Bismillaah

Terlalu sibuk dengan berbagai kerjaan itu mengundang protes. Protes dari orang rumah, karena hak mereka terrampas oleh kerjaan yang dibawa ke rumah.

Terlalu sibuk pun tak hanya merampas hak keluarga. Seringkali hak Allah swt pun terrampas. Adakalanya melek hingga larut malam, begadang sampai menjelang pagi. Akibatnya pola hidup menjadi rusak.

Dan itulah yang terjadi pada saya belakangan ini. Huft…

Namun, dari semua kesibukan itu ada satu yang sebetulnya saya nikmati. Karena yang satu ini memaksa saya untuk merenung berulang kali, membuka lagi lembaran-lembaran hati yang mungkin sudah usang –ciee..! dan tentu saja beristighfar memohon ampun kepada gusti Allah yang telah memberi saya banyak hal indah yang tak saya duga namun tak sempat saya syukuri.

Kerjaan yang satu ini berhubungan dengan aktifitas saya dulu saat kuliah: menerjemahkan naskah berbahasa Arab. Ceritanya beberapa minggu yang lalu, seorang senior saya di kampus dulu menawarkan satu naskah dari berlembar-lembar karya seorang ulama. Judul buku yang ditawarkan itu al-mishbah al-muniir fii tahdziib tafsir ibn Katsir, karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury.

Ada semangat sekaligus beban ketika menerima tawaran ini. Semangat karena melalui kerjaan seperti inilah biasanya saya mendapatkan ilmu, namun menjadi beban berat karena harus menerjemahkan pemikiran seorang ulama yang menguasai banyak bidang ilmu.

Syaikh Al-Mubarakfury adalah seorang ulama yang sudah sangat termasyhur dalam bidang sejarah. Terbukti bukunya Al-Rahiiq Al-Makhtum menjadi salah satu buku rujukan sirah yang diterjemahkan banyak penerbit. Kalau tak salah buku hayaat al-shahaabat juga adalah buah tangannya.

Tak hanya bergerak di dunia pemikiran, beliau juga adalah seorang aktifis pergerakan. Kalau saya tidak salah, beliau adalah pendiri harakah Jama’ah Tabligh yang lebih dikenal dengan khuruj-nya.

Dan karya beliau yang harus diterjemahkan kali ini berhubungan dengan masalah yang lebih berat lagi, yaitu tafsir Al-Qur’an. Buku ini adalah ringkasan dari tafsir Ibn Katsir. Dibandingkan dengan beliau, saya bukanlah siapa-siapa. Ilmu saya tak setaikukunya beliau. Tapi, sekali lagi ini kerjaan menarik, karena betapa banyak ilmu yang akan saya dapatkan. Mudah-mudahan begitu.

Hmm, semoga saja kesibukan ini ada manfaatnya untuk akhirat saya. Mudah-mudahan keluarga yang terrampas haknya, memaafkan dan mendapat manfaat pula dari kerjaan ini. Mudah-mudahan pengorbanan anak dan istri menjadi wasilah untuk datangnya pahala dan ampunan Allah swt.

Terakhir, kesibukan apa yang anda sedang jalani sekarang? Comment please..! hehe

ayo bercocok tanam!

Bismillaahirrahmaanirrahiem

Pekerjaan menanam adalah perbuatan yang mulia, sebab berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan banyak orang. Salah satu bentuk kebaikan adalah ketika Allah memberikan peluang kebutuhan banyak orang ada pada tangan seseorang. Rasulullah saw bersabda,

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah menjadikannya pemberi kebutuhan banyak manusia”. (Hr. Al-Bayhaqi)

Seharusnya kita jeli melihat peluang kebaikan. Allah telah menciptakan tanah Indonesia sangat subur, bahkan memungkinkan untuk menjadi negara pengekspor kebutuhan negara lain. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Masyarakat Indonesia sudah sejak lama malas mengolah tanah di negara subur ini. Pun demikian dengan pemerintahnya, mereka kurang memperhatikan kesejahteraan para petani. Kebijakan negara ini lebih fokus pada dunia industri, kebijakan ekonomi makro dan lain-lain yang menjadikan rakyat kecil sekadar menjadi buruh, bahkan di negaranya sendiri.

Tak banyak masyarakat yang memiliki pandangan hidup ukhrawi. Inilah yang menjadi sebab tak banyak orang memiliki semangat mengejar kebaikan dalam menanam ini. Mayoritas ingin mendapatkan hasil usaha yang instan, yang membuat cepat kaya dan tak membutuhkan waktu lama untuk menarik harta hasil pekerjaannya.

Pekerjaan menanam memang membutuhkan kesabaran, kepasrahan dan kegigihan. Kesabaran dalam menunggu hasil. Kepasrahan dalam menanti. Dan kegigihan dalam mengupayakan proses. Meski hasil yang diperoleh seringkali tak sesuai dengan prediksi.

Lebih jauh lagi, pekerjaan menanam hakekatnya adalah investasi akhirat. Sebagaimana Rasulullah saw mengisyaratkan dalam hadis. Beliau bersabda,

“Kalau kamu tahu besok akan terjadi kiamat, namun di tanganmu masih ada benih tanaman yang belum kau tanam. Segeralah kau tanam!”.

Beginilah Rasulullah saw mendidik para sahabat. Beliau mendorong mereka untuk mengejar pahala di akhirat. Secara logika, tak mungkin orang yang menanam benih sehari sebelum kiamat akan dapat memanen. Namun demikianlah Rasulullah mengajarkan paradigma akhirat. Bahwa hidup hanyalah tempat bercocok tanam. Tempatnya menanam, bukan memanen. Hanya di negeri akhiratlah sejatinya seorang muslim memanen hasil usahanya di muka bumi.

Dalam hadis lain, Rasulullah saw mendorong para sahabat untuk bercocok tanam. Beliau bersabda

“Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman, melainkan apa saja yang dapat dimakan dari hasil tanamannya itu, maka itu adalah sebagai sedekah baginya, dan apa saja yang tercuri daripadanya, itupun sebagai sedekah baginya. Dan tidak pula dikurangi oleh seseorang lain, melainkan itupun sebagai sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Maka tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman lalu ada orang, atau hewan-hewan atau burung yang memakannya, kecuali hal itu akan menjadi shodaqoh baginya di hari kiamat.”

Betapa besar keutamaan pahala bagi orang-orang yang menanam. Oleh karena itu mari mulai menanam. Bukankah apa yang kita nikmati saat ini pun adalah hasil cocok tanam para pendahulu kita?

Wallaahu a’lam.

Khilafah dan Demokrasi

Sebenarnya, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat.

Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dsb, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi. Karena itu, demokrasi memang harus dinikmati, selama tidak bertentangan dengan Islam. Itulah yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam, dengan caranya masing2. ada yang masuk sistem politik, ada yang di luar sistem politik,tetapi masuk sistem pendidikan, dll.  Tapi, mereka tetap hidup dan menikmati sistem demokrasi. saat HTI menjadi Ormas, itu juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Karena itu, menolak semua unsur dalam demokrasi juga tidak tepat. Karena demokrasi adalah istilah asing yang harus dikaji secara kritis. Para ulama kita sudah banyak melakukan kajian terhadap demokrasi, mereka beda-beda pendapat dalam soal menyikapinya. tapi, semuanya menolak aspek “kedaulatan hukum” diserahkan kepada rakyat, sebab kedaulatan hukum merupakan wilayah Tuhan. kajian yang cukup bagus dilakukan oleh Prof Hasbi ash-Shiddiqy dalam buku Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam.

Inilah yang kita sebut sebagai proses Islamisasi: menilai segala sesuatu istilah  “asing” dengan parameter Islam. Contoh kajian yang bagus dilakukan oleh Ibn Taymiyah dalam menilai istilah-istilah dalam sufi, yang asing dalam Islam, seperti “kasyaf”, “fana”, dan sebagainya. al-Ghazali juga contoh yang baik saat menilai istilah dan faham “falsafah”. ada yang diterimanya, tetapi juga ada yang ditolaknya.

Jadi, menurut saya, kenajisan istilah “demokrasi”  bukan “lidzatihi”, tetapi “lighairihi”, karena masih bisa “disamak”. Saat ini pun kita telah menggunakan berbagai istilah asing yang sudah diislamkan maknanya, seperti “agama”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, “pahala”, dll.

Masalah khilafah juga perlu didudukkan pada tempatnya. Khilafah adalah sistem politik Islam yang unik dan khas. Tentu, agama dan ideologi apa pun, memerlukan dukungan sistem politik untuk eksis atau berkembang. Tetapi, nasib dan eksistensi umat Islam tidak semata-mata bergantung pada khilafah. Kita dijajah Belanda selama ratusan tahun, Islam tetap eksis, dan bahkan, jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat Islam. Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim. Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.

Jadi, ungkapan “masalah umat akan beres jika khilafah berdiri”, juga tidak selalu tepat. Yang lebih penting, menyiapkan orang-orang yang akan memimpin umat Islam. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Entah mengapa Rasulullah saw — setahu saya — tidak banyak (hampir tidak pernah?) mengajak umat Islam untuk mendirikan negara Islam. meskipun negara pasti suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam, sebab berbagai aspek hukum dan kehidupan umat terkait dengan negara.

Tapi, saya tidak ketemu hadits: “Mari kita dirikan negara, agar kita jaya!”  Tentu, bukan berarti negara tidak penting.

Terakhir, soal “cara mendirikan khilafah”. Saya sering terima SMS, bahwa khilafah adalah solusi persoalan umat. beberapa kali acara, saya ditanya, mengapa saya tidak membicarakan khilafah sebagai solusi umat! Saya pernah sampaikan kepada pimpinan HTI, tahun 2010 lalu, tentang masalah ini.

Menurut saya, semangat mendirikan khilafah perlu dihargai. itu baik. tetapi, perlu didudukkan pada tempatnya juga. itu yang namanya adil. Jangan sampai, ada pemahaman, bahwa orang-orang yang rajin melafalkan kata khilafah dan rajin berdemo untuk menuntut khilafah merasa lebih baik daripada para dai kita yang berjuang di pelosok membentengi aqidah umat, meskipun mereka tidak pernah berdemo menuntut khilafah, atau bergabung dengan suatu kelompok yang menyatakan ingin mendirikan khilafah.

“Mendirikan khilafah” itu juga suatu diskusi tersendiri. Bagaimana caranya? AD Muhammadiyah menyatakan ingin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya! Persis juga punya tujuan serupa. DDII juga sama. Mars MTQ ada ungkapan “Baldatun Thayyitabun wa Rabbun Ghafur”. Apa itu tidak identik dengan “khilafah”. AD/ART PKS juga ingin memenangkan Islam.

Walhasil, menurut saya, dimensi perjuangan Islam itu sangat luas. semua kita yang ingin tegaknya Islam, perlu bekerjasama dan saling menghormati. Saya sebenarnya enggan menulis semacam ini, Karena saya sudah menyampaikan secara internal. tetapi, karena diskusi masalah semacam ini sudah terjadi berulang kali.

Masalah umat ini terlalu besar untuk hanya ditangani atau diatasi sendirian oleh PKS, HTI, NU, Muhammadiyah, INsists, dll. Kewajiban diantara kita adalah melakukan taushiyah, bukan saling mencerca dan saling membenci. Saya merasa dan mengakui, kadang terlalu sulit untuk berjuang benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan berjuang untuk kelompok, tapi untuk kemenangan Islam dan ikhlas karena Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Makalah Dr. Adian Husaini, di Milis INSIST)