Kunci Kemenangan Islam

154600_125376147523339_100001528627482_161346_6328095_n

Saat itu kemenangan telah di depan mata kaum muslimin. Pasukan Quraisy kocar kacir di medan Uhud yang berbukit. Meski jumlah pasukan Rasulullah saw kalah telak, namun berkat pertolongan Allah dan kehebatan iman mereka mampu memukul mundur pasukan musuh.
Musuh telah putus asa. Rasa-rasanya tak mungkin mereka dapat mengalahkan kaum muslimin. Sekuat apa pun pasukan Mekkah itu melawan tak dapat mengalahkan pasukan Muhammad saw. Kunci kemenangan kaum muslimin saat itu adalah para pemanah yang ditempatkan Rasulullah saw di bukit. Lima puluh pemanah itulah yang akan dengan mudah memecah kekuatan musuh yang dilengkapi pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid.
Para pemanah itulah kunci kemenangan. Di awal peperangan Rasulullah saw telah berpesan kepada mereka untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam situasi apa pun. Beliau berpesan, “Jauhkanlah pasukan berkuda Quraisy dari kami dengan panah kalian. Jangan sampai mereka datang dari belakang. Lindungilah pasukan kita. Meski posisi kami terdesak dan terbunuh, jangan pernh kalian tinggalkan pos kalian. Dan meski kami menang, kalian tetap pos kalian dan jangan mengikuti kami mengumpulkan ghanimah”.
Dari kira-kira tujuh ratus pasukan kaum muslimin. Lima puluh pemanah itulah kunci dan penentu kemenangan. Jumlah yang sedikit tapi menentukan.
Yang terjadi selanjutnya telah sama-sama kita ketahui. Di saat kaum muslimin hampir meraih kemenangan, di saat musuh dihinggapi rasa takut dan putus asa, tragedi itu terjadi. Cinta dunia telah memenuhi hati para pemanah. Mereka melupakan wasiat Rasul. Semua pemanah itu meninggalkan pos mereka. Menuju harta yang ditinggalkan musuh di medan perang. Hanya lima orang yang tetap bertahan. Lima orang yang tetap ingat akan janji mereka kepada Rasulullah saw.
Apalah artinya lima orang menghadapi pasukan berkuda Khalid bin Walid yang gagah berani. Kelimanya terbunuh di sana. Dengan tetap memegang janji mereka kepada Rasulullah saw.
Pasukan berkuda itu terus melaju. Membuat pasukan kaum muslimin porak poranda. Hingga banyak yang terbunuh, di antaranya Hamzah paman Rasulullah saw dan Mush’ab bin Umair. Lainnya melarikan diri. Menyisakan Thalhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi Waqqash saja yang menemani Rasulullah saw. Akibatnya Rasulullah luka berat dan hampir terbunuh. Bahkan tersebar isu Rasulullah telah gugur di medan Uhud.
Kemenangan itu telah nyata di depan mata. Namun, tiba-tiba sirna. Penyebabnya ada dua: hati yang menginginkan dunia dan ketidakpatuhan pada perintah Rasulullah saw.
Berkenaan dengan hal ini, Allah swt berfirman
Dan Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu harta dunia yang kamu sukai. (Qs. Ali Imran: 152)
Saudaraku, dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa kemenangan itu hanya milik orang-orang yang pantas mendapatkannya. Orang-orang yang hatinya ikhlas. Orang-orang yang menjadikan hidup dan seluruh upayanya dalam hidup semata-mata untuk mencari keridhoan Allah swt. Orang-orang yang melepaskan hatinya dari dunia, meski dunia dan seisinya ada di genggaman tangannya.
Namun, ikhlas tidaklah cukup. Ia harus diikuti dengan kepatuhan terhadap sunnah Rasulullah saw. Sebab ketaatan kepada sunnah adalah cara ibadah yang diridhai Allah. Tiada ikhlas tanpa kepatuhan. Itulah mengapa syahadat memiliki dua bentuk persaksian: persaksian bahwa tiada Ilah/sesembahan selain Allah, dan persaksian bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah. Maknanya Ikhlas itu harus melalui cara yang diajarkan Rasulullah saw. Maknanya pula, jika ikhlas adalah ruh ibadah, maka kepatuhan kepada sunnah adalah jasadnya. Ikhlas tanpa kepatuhan ibarat ruh tanpa jasad.
Saudaraku, kisah di atas mengajarkan pula bahwa kemenangan menjauh dari Rasulullah saw akibat kecintaan kepada dunia dan jauhnya segelintir sahabat dari kepatuhan kepada Rasulullah. Dan sungguh, dua hal itu pula yang kini kita rasakan begitu dekat dengan jiwa kita.
Kecintaan pada dunia itu begitu rapat dalam hati kita. Terkadang ia pula yang sesungguhnya menjadi dorongan dalam amal-amal kita. Dunia itu bisa berupa harta, tahta, kehormatan, pengakuan sesama dan lain-lain. Seringkali ada agenda tersembunyi yang mendorong amal-amal kita, pun dalam urusan ibadah atau dakwah. Hal ini tentu bukannya mendekatkan kepada kemenangan dakwah dan ibadah, namun menjauhkannya.
Di sisi lain, ketidakpatuhan terhadap sunnah Rasulullah saw terasa lumrah dalam hidup. Pada aspek aqidah, ibadah ataupun mu’amalah kita. Seringkali kepatuhan pada sunnah menyempit maknanya hanya dalam ibadah. Urusan Mu’amalah dianggap tak perlu mengikuti sunnah. Betapa sulitnya kita keluar dari riba dalam mu’amalah kita, padahal ia menyalahi sunnah. Betapa sulit kita menghindari kebiasaan mengikuti perayaan-perayaan Yahudi dan Nasrani semisal ulang tahun, valentin dan perayaan lainnya sedang ia jelas-jelas mengkhianati sunnah. Betapa sulit kita memelihara kebersihan padahal ia adalah sunnah. Betapa sulit kita menghindari kebiasaan merusak esehatan, padahal ia adalah sunnah.
Pantas saja jika Rasulullah menyatakan, akan datang suatu zaman di mana berpegang kepada sunnah ibarat memegang bara. Digenggam terasa panas menyiksa, dilepas tertimpa bencana akhirat.
Saudaraku, kemenangan adalah janji dari Allah untuk kaum muslimin di tempat dan masa yang mana saja. Kemenangan bukan hanya janji untuk Rasulullah beserta para sahabat saja. Janji itu berlaku di sepanjang zaman. Jika kemenangan itu mampu diraih Rasulullah saw beserta sahabat. Bukankah seharusnya siapa pun dapat meraihnya pula? Bukankah syahadat kita sama dengan syahadat Rasulullah dan para sahabat? Bukankah Islam yang ada kini adalah Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah juga? Bukankah Al-Quran yang dipedomani Rasulullah saw adalah Al-Quran yang sama yang kita baca kini? Bukankah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah adalah sunnah yang juga kita pelajari saat ini?
Jika selepas Uhud Rasulullah saw mampu meraih kemenangan gemilang dalam waktu tak lama, maka di manakah kita dari kemenangan yang dijanjikan Allah itu? Sudah berabad-abad lamanya kemenangan itu jauh dari genggaman umat Islam. Dan kuncinya tetap sama: Ikhlas serta patuh terhadap sunnah.
Wallahu A’lam