Satukan Hati Kaum Muslimin

Zaman sekarang memang zaman yang aneh, ada orang yang mengaku aktivis dakwah, teriak-teriak tentang Khilafah, pendirian negara yang berdasarkan syariat Allah, negara yang menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, rindu dengan penerapan Islam secara kaaffah tapi subuh dia nggak hadir di Masjid, jarang puasa senin-kamis, tahajjudnya setahun bisa dihitung jari, dan baca Al-Qur’an juga malas, semua hal dikiritik olehnya, sampai-sampai seolah tidak ada kebaikan pada orang lain bila tidak berdakwah tentang Khilafah.

Sama anehnya dengan orang-orang yang mengaku ikut kajian sunnah, senantiasa menganggap bahwa dirinyalah yang bertauhid, tapi tauhid ini tidak menyelamatkan saudaranya dari kekasaran lidahnya, dan bahkan tak memahami sunnah yang paling mudah yaitu menyenangkan saudaranya, mencintai saudaranya karena Allah, atau dia menganggap bahwa saudaranya hanya yang cingkrang celananya dan subur janggutnya, kalangannya saja.

Aneh juga seperti orang-orang yang merasa bahwa dirinya mengikuti tarbiyah dan metode rabbaniyyah Rasulullah, namun menganggap bahwa kerja itu hanya dengan politik dan parlemen, selain itu berarti tidak berdakwah dan tidak berjuang, berarti hanya penonton yang selalu dianggap salah dan tidak ada betulnya.

Lebih anehnya lagi, ternyata semua sifat-sifat diatas itu ternyata ada pada diriku, itu aku.

Tapi zaman sekarang, ada juga orang-orang yang benar-benar sempurna tarbiyahnya, lembut tuturnya dan santun lisannya, (kasih) sayangnya pada manusia tak dapat disembunyikan walau dengan cara apapun. Merangkul saudaranya satu demi satu, mempergauli mereka dengan ihsan, menjamu mereka layaknya tamu agung, rabbaniyyah sama semisal ajaran Rasulullah.

Di zaman ini juga kami temukan mujahid-mujahid yang cinta sunnah, rapat janggutnya serapat dalil yang kuat yang dia pelajari dengan serius, dia bersabar dalam memperbaiki diri juga memperbaiki orang lain, saat berjumpa dengan Muslim yang lain ia memberikan tatapannya yang paling teduh dan senyum yang paling manis, walau ilmunya jauh lebih tinggi, tapi ia selalu bisa menemukan cara untuk belajar pada saudaranya sesama Muslim, akhlaknya itu sunnah, tauhidnya ada pada akhlaknya.

Juga di zaman ini, pejuang Khilafah dan Syariah yang sangat mencintai sesamanya, dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mencintai para ulama sebagaimana dia mencintai saudara-saudaranya, dia cinta pada sejarah Islam sebagaimana cinta pada bahasa Al-Qur’an, dia bukan hanya meramaikan Masjid, namun dialah yang memakmurkannya, siang harinya laksana singa dan malamnya seperti rahib, tak keluar dari lisannya kecuali ayat dan hadits, tak didengarnya kecuali kebaikan demi kebaikan.

Dan aku ingin sekali seperti mereka.

Kadangkala, kesedihan meliputiku saat aku mengetahui kebodohan diriku dan angkuhnya sikapku padahal aku kurang ilmu, disitu aku merasa kebangkitan Islam takkan Allah berikan padaku.

Tapi, saat aku melihat wajah-wajah yang bercahaya dengan ilmu, dan agung akhlaknya itu, aku tahu bisa jadi Allah memperhitungkan mereka untuk memberikan kebangkitan Islam, dan aku berharap aku dapat sedikit saja memiliki kemuliaan mereka, dengan mencintai mereka.

Ya Allah, satukanlah hati kaum Muslim..

*dari facebook Felix Siauw, Kamis (14/5/2015), judul dari redaksi.

Keutamaan Wanita dalam Islam

image

Keutamaan Wanita..

1. Benda yang Mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.

2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa kesabarannya saat hamil berpahala besar, dan tahukah jika ia meninggal dunia karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung- jawabkan: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan laki-lakinya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh : suaminya, ayahnya, anak lelakinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggung-jawabnya kepada ALLAH, maka ia akan menerima pahala yg luar biasa.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita.

tulisan diambil dari instagram @teladan.rasul
poto diambil dari instagram @taushiyahku

Kunci Kemenangan Islam

154600_125376147523339_100001528627482_161346_6328095_n

Saat itu kemenangan telah di depan mata kaum muslimin. Pasukan Quraisy kocar kacir di medan Uhud yang berbukit. Meski jumlah pasukan Rasulullah saw kalah telak, namun berkat pertolongan Allah dan kehebatan iman mereka mampu memukul mundur pasukan musuh.
Musuh telah putus asa. Rasa-rasanya tak mungkin mereka dapat mengalahkan kaum muslimin. Sekuat apa pun pasukan Mekkah itu melawan tak dapat mengalahkan pasukan Muhammad saw. Kunci kemenangan kaum muslimin saat itu adalah para pemanah yang ditempatkan Rasulullah saw di bukit. Lima puluh pemanah itulah yang akan dengan mudah memecah kekuatan musuh yang dilengkapi pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid.
Para pemanah itulah kunci kemenangan. Di awal peperangan Rasulullah saw telah berpesan kepada mereka untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam situasi apa pun. Beliau berpesan, “Jauhkanlah pasukan berkuda Quraisy dari kami dengan panah kalian. Jangan sampai mereka datang dari belakang. Lindungilah pasukan kita. Meski posisi kami terdesak dan terbunuh, jangan pernh kalian tinggalkan pos kalian. Dan meski kami menang, kalian tetap pos kalian dan jangan mengikuti kami mengumpulkan ghanimah”.
Dari kira-kira tujuh ratus pasukan kaum muslimin. Lima puluh pemanah itulah kunci dan penentu kemenangan. Jumlah yang sedikit tapi menentukan.
Yang terjadi selanjutnya telah sama-sama kita ketahui. Di saat kaum muslimin hampir meraih kemenangan, di saat musuh dihinggapi rasa takut dan putus asa, tragedi itu terjadi. Cinta dunia telah memenuhi hati para pemanah. Mereka melupakan wasiat Rasul. Semua pemanah itu meninggalkan pos mereka. Menuju harta yang ditinggalkan musuh di medan perang. Hanya lima orang yang tetap bertahan. Lima orang yang tetap ingat akan janji mereka kepada Rasulullah saw.
Apalah artinya lima orang menghadapi pasukan berkuda Khalid bin Walid yang gagah berani. Kelimanya terbunuh di sana. Dengan tetap memegang janji mereka kepada Rasulullah saw.
Pasukan berkuda itu terus melaju. Membuat pasukan kaum muslimin porak poranda. Hingga banyak yang terbunuh, di antaranya Hamzah paman Rasulullah saw dan Mush’ab bin Umair. Lainnya melarikan diri. Menyisakan Thalhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi Waqqash saja yang menemani Rasulullah saw. Akibatnya Rasulullah luka berat dan hampir terbunuh. Bahkan tersebar isu Rasulullah telah gugur di medan Uhud.
Kemenangan itu telah nyata di depan mata. Namun, tiba-tiba sirna. Penyebabnya ada dua: hati yang menginginkan dunia dan ketidakpatuhan pada perintah Rasulullah saw.
Berkenaan dengan hal ini, Allah swt berfirman
Dan Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu harta dunia yang kamu sukai. (Qs. Ali Imran: 152)
Saudaraku, dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa kemenangan itu hanya milik orang-orang yang pantas mendapatkannya. Orang-orang yang hatinya ikhlas. Orang-orang yang menjadikan hidup dan seluruh upayanya dalam hidup semata-mata untuk mencari keridhoan Allah swt. Orang-orang yang melepaskan hatinya dari dunia, meski dunia dan seisinya ada di genggaman tangannya.
Namun, ikhlas tidaklah cukup. Ia harus diikuti dengan kepatuhan terhadap sunnah Rasulullah saw. Sebab ketaatan kepada sunnah adalah cara ibadah yang diridhai Allah. Tiada ikhlas tanpa kepatuhan. Itulah mengapa syahadat memiliki dua bentuk persaksian: persaksian bahwa tiada Ilah/sesembahan selain Allah, dan persaksian bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah. Maknanya Ikhlas itu harus melalui cara yang diajarkan Rasulullah saw. Maknanya pula, jika ikhlas adalah ruh ibadah, maka kepatuhan kepada sunnah adalah jasadnya. Ikhlas tanpa kepatuhan ibarat ruh tanpa jasad.
Saudaraku, kisah di atas mengajarkan pula bahwa kemenangan menjauh dari Rasulullah saw akibat kecintaan kepada dunia dan jauhnya segelintir sahabat dari kepatuhan kepada Rasulullah. Dan sungguh, dua hal itu pula yang kini kita rasakan begitu dekat dengan jiwa kita.
Kecintaan pada dunia itu begitu rapat dalam hati kita. Terkadang ia pula yang sesungguhnya menjadi dorongan dalam amal-amal kita. Dunia itu bisa berupa harta, tahta, kehormatan, pengakuan sesama dan lain-lain. Seringkali ada agenda tersembunyi yang mendorong amal-amal kita, pun dalam urusan ibadah atau dakwah. Hal ini tentu bukannya mendekatkan kepada kemenangan dakwah dan ibadah, namun menjauhkannya.
Di sisi lain, ketidakpatuhan terhadap sunnah Rasulullah saw terasa lumrah dalam hidup. Pada aspek aqidah, ibadah ataupun mu’amalah kita. Seringkali kepatuhan pada sunnah menyempit maknanya hanya dalam ibadah. Urusan Mu’amalah dianggap tak perlu mengikuti sunnah. Betapa sulitnya kita keluar dari riba dalam mu’amalah kita, padahal ia menyalahi sunnah. Betapa sulit kita menghindari kebiasaan mengikuti perayaan-perayaan Yahudi dan Nasrani semisal ulang tahun, valentin dan perayaan lainnya sedang ia jelas-jelas mengkhianati sunnah. Betapa sulit kita memelihara kebersihan padahal ia adalah sunnah. Betapa sulit kita menghindari kebiasaan merusak esehatan, padahal ia adalah sunnah.
Pantas saja jika Rasulullah menyatakan, akan datang suatu zaman di mana berpegang kepada sunnah ibarat memegang bara. Digenggam terasa panas menyiksa, dilepas tertimpa bencana akhirat.
Saudaraku, kemenangan adalah janji dari Allah untuk kaum muslimin di tempat dan masa yang mana saja. Kemenangan bukan hanya janji untuk Rasulullah beserta para sahabat saja. Janji itu berlaku di sepanjang zaman. Jika kemenangan itu mampu diraih Rasulullah saw beserta sahabat. Bukankah seharusnya siapa pun dapat meraihnya pula? Bukankah syahadat kita sama dengan syahadat Rasulullah dan para sahabat? Bukankah Islam yang ada kini adalah Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah juga? Bukankah Al-Quran yang dipedomani Rasulullah saw adalah Al-Quran yang sama yang kita baca kini? Bukankah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah adalah sunnah yang juga kita pelajari saat ini?
Jika selepas Uhud Rasulullah saw mampu meraih kemenangan gemilang dalam waktu tak lama, maka di manakah kita dari kemenangan yang dijanjikan Allah itu? Sudah berabad-abad lamanya kemenangan itu jauh dari genggaman umat Islam. Dan kuncinya tetap sama: Ikhlas serta patuh terhadap sunnah.
Wallahu A’lam

Renungan Gerhana

th

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan batil (tanpa hikmah). yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Q.S. Shad: 27)
Saudaraku, pernahkah kita memperhatikan daun-daun yang jatuh tertiup angin? Atau mentari yang menyambut setiap pagi? Atau desiran angin yang bertiup ke wajah kita? Atau, pernahkah kita merenungkan apa yang ada di balik awan hitam yang menggelayut di atas kepala kita?
Mungkin, pertanyaan-pertanyaan di atas terlalu naif untuk diungkit-ungkit. Di tengah kesibukan kita mengurusi dunia, fenomena-fenomena alam di atas, mungkin, hanya urusan remeh belaka. Apa urusan kita untuk memperhatikan daun yang jatuh? Apa urusan kita mengamati mentari yang terbit? Apa urusan kita mencoba mendengar angin yang hinggap di telinga? Dan apa urusan kita merenungkan awan hitam?
Fenomena-fenomena tersebut telah Allah sebutkan dalam firman-Nya.
“Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Q.S. Al-An’am: 59)
“Perhatikanlah matahari dan sinarnya di pagi hari.” (Q.S. As-Syams: 1)
“Maka tatkala mereka melihat awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (Q.S. al-Ahqaf: 24)
Saudaraku, semua fenomena alam yang terjadi setiap hari adalah peringatan dari Allah. Semuanya ajaib. Semuanya luar biasa. Semuanya dahsyat. Namun, kita menganggapnya biasa karena kita terlalu sering melihat kedahsyatan tersebut. Sehingga tak jarang kita menganggapnya sesuatu yang biasa dan tak mengandung hikmah sedikitpun.
Tahukah anda bahwa Rasulullah saw selalu gelisah ketika melihat fenomena-fenomena alam tadi? Istri beliau tercinta yang menceritakan kepada kita.
Aisyah, bertanya “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang bergembira ketika melihat awan hitam, mereka berharap akan datangnya hujan. Sedangkan aku melihat ada ketakutan di wajahmu saat melihatnya. Ada apa gerangan?”
Beliau menjawab, “Ya Aisyah, Aku tidak merasa aman dari adzab yang pernah turun kepada umat sebelum kita.” (H.R. Bukhari)
Bahkan ibnu Abbas pernah bercerita, sesungguhnya Rasulullah selalu gemetar lututnya (saat melihat angin dan awan hitam), beliau mengucapkan Allahummaj’alha rahmatan wa laa taj’alhaa adzaban (Ya Allah jadikan dia rahmat, dan jangan jadikan dia adzab). (H.R. Syafi’i dan ath-Thabraniy)
Itulah sikap Rasulullah terhadap fenomena-fenomena biasa yang terjadi di alam. Lalu, bagaimana dengan fenomena-fenomena yang jarang terjadi? Sikap Rasulullah tentu lebih dari itu. Sebagai gambaran, mari kita perhatikan hadits berikut,
Dari Aisyah, ia berkata, terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw shalat mengimami orang-orang … Kemudian beliau berkhutbah kepada manusia, maka beliau membaca tahmid dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. tidak terjadi gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah dan bertakbirlah, dan shalatlah dan bersedekahlah.” Kemudian beliau bersabda, “wahai umat Muhamad, demi Allah tidak ada seorang pun yang lebih cemburu dari Allah ketika hamba-Nya (laki-laki atau perempuan) melakukan zina. Wahai umat Muhamad, demi Allah kalau kalian mengetahui apa yang aku tahu, pasti kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (H.R. Bukhari)
Fenomena-fenomena alam (yang kita anggap) biasa, beliau hadapi dengan rasa takut dan doa. Fenomena alam yang tak biasa, seperti gerhana, beliau hadapi dengan doa, takbir, shalat, khutbah dan sedekah.
Saudaraku, doa adalah ibadah khusus, takbiran adalah ibadah khusus, shalat dan khutbah adalah ibadah khusus, dan sedekah adalah ibadah khusus. Masing-masing, biasanya, kita laksanakan secara terpisah. Ketika ibadah-ibadah tesebut dilaksanakan bersamaan untuk menghadapi sebuah peristiwa, apakah kita masih akan menganggap peristiwa itu biasa?
Mari perhatikan akhir khutbah Rasulullah yang tadi. Beliau menyatakan,
“Kalaulah kalian mengetahui apa yang aku tahu. Kalian pasti akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Saudaraku Rasulullah telah berkali-kali melihat surga dan neraka. Beliau tahu persis orang-orang seperti apa yang mengisi surga, sebagaimana beliau pun sangat kenal siapa yang mengisi neraka. Rasulullah bercerita kepada Mu’adz bin Jabal. Beliau bersabda,
Sepuluh kelompok dari umatku dibedakan dari kelompok besar kaum muslimin. Allah mengganti rupa dan tampilan mereka. Di antara mereka ada yang (1) berwajah kera. (2) Berwajah babi. (3) Yang terbalik: kaki mereka menggantung di atas, sedang wajah mereka diseret di atas tanah. (4) Yang buta. (5) Yang bisu dan tuli dan kehilangan akal. (6) Yang mengunyah (memotong) lidahnya sendiri. Lidahnya terus memanjang ke dada mereka, dan mengalirlah nanah dari mulut mereka hingga mereka dijauhi orang-orang. (7) Yang putus tangan dan kakinya. (8) Yang disalib di atas tiang dari api. (9) Yang badannya berbau busuk seperti bangkai. Dan terakhir, (10) Yang dipakaikan di tubuhnya pakaian dari timah yang sangat panas sehingga melekat di kulit mereka.
Lalu Rasulullah menjelaskan bahwa orang-orang yang berwajah kera, mereka adalah tukang fitnah, pangadu domba antara manusia. Orang-orang dengan gambaran babi adalah, orang yang biasa makan makanan yang haram. Orang-orang yang dibalik rupanya adalah para pemakan riba. Orang-orang yang buta adalah para pelanggar hukum Allah. Yang tuli dan bisu adalah orang yang ujub dengan amal mereka. Orang yang memotong lidahnya adalah, para ulama dan para pencerita yang perbuatan mereka menyalahi apa yang mereka ucapkan.Orang yang memotong tangan dan kakinya adalah orang-orang yang suka menyakiti tetangga (sesama manusia). Orang-orang yang disalib pada tiang dari api adalah orang-orang yang mengumpat dan memfitnah orang di hadapan penguasa. Orang-orang yang berbau bangkai busuk, adalah orang-orang yang tenggelam dalam nafsu syahwat dan kelezatan duniawi. Mereka tidak mengeluarkan hak Allah dari harta mereka. Dan orang-orang yang dipakaikan pakaian dari timah panas adalah orang-orang sombong dan berbangga diri. (Tafsir al-Qurthuby juz 19: 169)
Itu satu bentuk kedahsyatan hari akhirat. Makanya Rasulullah selalu berdoa untuk dihindarkan dari adzab qubur (akhirat) di setiap terjadi gerhana. Dalam sebuah hadits dinyatakan,
“Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw. Maka beliau keluar di waktu dhuha. Kemudian beliau berdiri shalat mengimami orang-orang, … setelah selesai shalat beliau memerintahkan mereka untuk meminta perlindungan kepada Allah dari adzab qubur.” (H.R. Bukhari)
Dalam hadits lain dinyatakan, Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang. Tapi sesungguhnya Allah sedang memberi peringatan kepada hamba-hamba-Nya dengannya.” (H.R. Bukhari)
Dalam hadits tersebut Rasulullah menggunakan lafadz yukhowwifu, yang secara harfiyah berarti menaku-nakuti. Tentu tujuannya sangat jelas, agar peringatan itu membuat manusia takut kepada Sang Pencipta gerhana.
Saudaraku, tiada yang biasa di dalam gerak kehidupan kita. Tiada yang biasa dalam gerak alam raya. Semuanya luar biasa. Semuanya harus direnungkan dengan seksama. Sungguh, tiada yang paling layak untuk kita lakukan selain apa yang telah al-Quran sampaikan,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran: 190-191)
Saudaraku, beberapa hari lagi kita akan menghadapi gerhana bulan bertepatan dengan hari kemerdekaan, 17 Agustus 2008. Hari itu, akankah kita banyak tertawa ataukah banyak menangis. “Rabbana tidaklah Kau ciptakan semua ini sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

nasehat

bismillahirrahmaanirrahiem

Terlepas dari konteks sosial dan politik yang sedang terjadi, dari sudut pandang kependidikan nasehat berikut ini layak diapresiasi dengan setinggi-tingginya. Ia memuat sebuah kebenaran abadi:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah menjaga lisannya.

diambil dari sebuah status di facebook. sila dibaca,

Nak, sekarang ini jaman sudah berubah
Tak sama seperti jaman bapakmu
Dulu nak, eyangmu suka berpesan,
“Jangan Suka Marah, Nanti Cepat Tua!”
Tapi sekarang beda nak,
“Kalo kamu pemarah itu tandanya kamu pantas jadi gubernur Jakarta!”

Nak, sekarang ini jaman sudah berubah
Kalau dulu pemimpin itu memberi contoh pada rakyatnya,
Dengan berperilaku santun dan ucapan yang baik,
Sekarang Nak, pemimpin itu memberi contoh mengumpat, menghujat dan mengajak berantem orang yang tidak suka padanya.
Dan sekarang Nak, pemimpin seperti itu dipuja dan disembah,

Nak, dulu seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa tak akan mengubar kata kata semaunya
Dan Nak, Nabimu juga mengajarkan untuk menjadi orang yang tegas menghadapi kemungkaran bukan dengan kata kata dan prilaku yang beringas.

Nak, Nabimu juga pernah marah, tetapi tidak setiap saat selalu marah apalagi untuk hal hal yang sepele.
Nak, Nabimu memerintahkan kamu untuk marah apabila kehormatan agamu dihina,
Tetapi Nak, Nabimu tak pernah marah dan bahkan memaafkan orang orang yang menghina pribadinya.

Nak, janganlah kamu tertipu dengan kebesaran orang orang yang dibesarkan oleh media,
Nak, ingatlah mereka pasti akan juga dihancurkan oleh media.

Nak, tetaplah kamu belajar dan rendah hati
Meski kelak kau jadi pemimpin

Kunci Sukses (Hikmah Ramadhan 1)

Bismillahirrahmaanirrahiem

bayangkan anda sedang memegang sebuah suryakanta. apa yang anda lakukan agar benda itu dapat membakar kertas? ada dua hal yang dibutuhkan suryakanta untuk melakukannya. pertama, cahaya matahari. kedua, fokus. cahaya matahari adalah unsur utama agar kertas dapat terbakar. sedangkan suryakanta fungsinya sekadar alat untuk memfokuskan cahaya dari matahari itu agar berdayabakar.

lalu apa yang dibutuhkan agar kita meraih kesuksesan? jawabannya sama, ada dua hal. pastikan ada cahaya yang kita yakini dalam diri kita. lalu fokuskan arah cahaya itu ke objek yang ingin kita “bakar”.

sahabat, untuk meraih kesuksesan tak cukup dengan mengandalkan keyakinan pada diri sendiri. sebab pada hakikatnya diri kita hanyalah alat, bukan sumber sukses. Allah sangat mengecam orang-orang yang merasa cukup dengan dirinya seperti tergambar dalam banyak ayat Al-Qur’an. orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang merebut selendang satu-satunya milik Allah, yaitu sifat Takabbur.

kesuksesan itu adalah dari Allah swt. seperti pada suryakanta di atas, daya bakar berasal dari cahaya. artinya kesuksesan itu berasal dari cahaya keimanan kepada Allah sebagai pemberi rizki, baik harta, kesehatan, pendidikan, jabatan dan lain-lain. cahaya itu dapat pula berupa keyakinan bahwa Allah telah memberikan kepada kita semua potensi yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan. tugas kita adalah memfokuskan semua keyakinan dan potensi ke satu titik: mengharap ridho Allah. Dan dengan fokus ini, tidak sulit bagi Allah untuk memberikan apa pun yang kita butuhkan, apalagi sekadar sebuah kesuksesan.

sahabat, mari kita renungkan hadits Qudsi berikut ini:

Wahai manusia, fokuskanlah waktu-Mu untuk beribadah kepadaku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan, dan Aku hilangkan kefakiranmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, Aku penuhi hatimu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menghilangkan kefakiranmu. (Hr. Tirmidzi dan Ibn Majah)

sahabat, mari kita fokuskan seluruh kerja kita, silaturahim kita, belajar kita, aktifitas rumah tangga kita, bisnis kita, dan seluruh yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah. dan tunggulah kesuksesan itu pasti akan Allah berikan dalam genggaman kita.

Wallaahu A’lam